Jan
03
Filed Under (kisah) by tada on 03-01-2008

Bagaimana menilai airmata yang ditangiskan
seorang wanita? Sebuah kelemahan dengan kekuatan tiada tara?
Ataukah bahasa yang bermakna sejuta kata? Aku sendiri, tidak pernah bisa
memahaminya.

Sampai pada hari itu, seorang pasien dibawa
masuk. Airmata mengalir dipipinya. Tanpa kata, tanpa suara. Kami mengangkat
tubuhnya, memindahkan ia dari brankard ke meja operasi. Sebuah prosedur standar
disini adalah meminta pasien menyebutkan nama dan tindakan yang
akan dilakukan, untuk mencegah kekeliruan prosedur. Dengan suara serak ia
menjawab sewaktu ditanya namanya. Tetapi hanya gelengan dan anggukan sewaktu
kami konfirmasi tindakan yang akan kami kerjakan. Airmatanya membanjir deras.

Aku sungguh tidak
mengerti. Siapapun yang dibawa masuk kesini tidaklah dengan suasana hati ceria
ataupun berbunga-bunga. Tetapi biasanya airmata telah kering diluar sana, di poliklinik atau
diantara keluarga. Lalu biasanya hanya tampak wajah sedih dan sorot mata yang
menyuarakan penerimaan dan harapan untuk bisa menyambung sisa hidup yang ada.

Tetapi air mata….? Sederas ini…sepedih
ini….? Disini…?

Perawat memberinya tissue. Dokter anestesi
memintanya berhitung sambil mengalirkan inhalan ke depan wajahnya. Aku akan
memasang lead EKG. Selimut yang sejak tadi menutup tubuhnya disingkap oleh
perawat. Aku terkesima. Sekarang aku memahaminya.

Sebelah buah dadanya tiada.

Kutatap wajahnya kini terhalangi berbagai selang, iapun sekarang sudah menjadi lebih tenang. Anestesi menunjukkan kekuatannya. Kulirik data di monitor.
Apakah kau percaya, bahwa kata-kata
terkadang justru lebih kentara ketika tidak disuarakan?
Terlahir 58 tahun yang lalu di sebuah negara yang wanitanya bisa hidup sampai
usia 100 tahun, ia layak untuk meneteskan airmata sedalamnya. Ketika dokter
memotong bagian tubuhnya itu lima tahun yang lalu, ia juga mengambil sebagian besar keutuhan dirinya
sebagai wanita.  Betapa ironisnya, tim kami, empat
orang di ruangan ini, semuanya wanita.
Maafkan kami yang tidak mampu memberimu pilihan, Bu.Sekejap rasa tidak berdaya yang kosong
melintasi benakku.

 
Ahli anestesi memanggil-manggil namanya.

“wakarimasuka?”
“wakarimasuka?”
“Me o agete kudasai”

Kugenggam tangannya, kurasakan gerakan
menyambut genggamanku, tapi matanya tetap terpejam.

“Mo owarimashita yo…”

Mata itu tetap terpejam. Dadanya yang kini
rata terguncang-guncang. Airmata mengalir deras di pipinya. Tak ada isakan, tak
ada tangisan. Bahasa kepedihan yang ketika aku kira memahaminya, sesungguhnya aku tidak tahu apa-apa.

 
Disini aku berada. Kulepas jari-jemarinya. Aku
tidak layak untuk menjadi ada ataupun memberikan mental support untuknya. Aku bukanlah siapa-siapa, aku adalah bagian dari
kepedihannya. Kali ini tidak satupun dari tim kami yang memberinya tissue. 

 
Kutatap wajahnya saat mendorong bednya ke recovery
room. Dalam lorong-lorong instalasi bedah pertanyaan itu memantul berulang. Padaku,
pada dinding stainless steel itu, pada pintu-pintu kaca, pada lemari depo obat,
pada kebisuan selepas jam kerja. Sebuah pertanyaan yang sulit dinyatakan.

 
Apalah yang patut kubanggakan?

Apalah yang layak kukeluhkan?

Apalah daya yang kupunya?

Apalah tahu yang kupunya?

 
Kutatap bayangku dalam cermin wastafel kamar
ganti. Hanya satu hal yang kumengerti: masih banyak yang tidak aku mengerti.

 

Tokyo, natsu 2007.

( Untuk mbak Desy Sugandha. Segenap belasungkawa
untuk keluarganya )

 

 

Dec
20
Filed Under (kisah) by tada on 20-12-2007

Kisah ini panjang tapi kutulis juga
akhirnya karena terilhami oleh komen yang ditulis Ati dan Cus… ( he was the
gasoline and she was the flame :P )

 

Suatu hari di suatu waktu.

Sewaktu datang
di rapat bagian, sebagai junior member, tidak terpikir olehku akan mendapat jatah
mengajar. Sewaktu seniorku menyampaikan ada bahan yang harus kuampu whahaha…
rasanya seperti baru dilantik menjadi ‘orang dewasa’. Kuterima dengan takzim flash
disk berisi ppt file bahan ajar yang sebelumnya beliau ampu itu. Keraguan
sempat muncul di benakku, but when I looked into his eyes.. yang kulihat adalah
kepercayaan penuh disitu. Jadi, kutampakkan gaya standarku: everything-is-fine appearance. Waks! 


Tidak untuk dibandingkan dengan para
seniorku ( kalah telak, dude…siapakah saya…plis deh ), mengajar dalam artian
menyampaikan suatu bahan ajar kepada sekelompok publik sebetulnya bukan hal
baru bagiku. Sewaktu mahasiswa sempat merasakan menjadi asisten
sekitar 3 tahun, aku juga menjadi staf pengajar part-time di salah
satu lembaga kursus bahasa inggris. Tetapi tetap saja rasanya seperti
pengalaman pertama.

 

So, dengan keyakinan penuh tentang materi
ajar ( yang sudah dipersiapkan dengan baik tentunya…ehmm…) tetapi
ketidakyakinan apakah aku akan bisa meyakinkan (???), kumasuki ruangan lab yang
masih sepi. Aku punya 30 menit untuk menyetting perkakas mengajar, ‘temuan
terbaik abad ini’ yang konon mempermudah hidup manusia ( tapi selalu membuatku
pusing
:( ). Belum sempat menyampaikan sepatah katapun bapak pengampu ruangan
menyambutku dengan…” Mbak kata Pak ‘senior’ yang mengajar diganti, tapi belum
datang penggantinya nih..  Mbaknya tahu
siapa yang menggantikan?” Sewaktu kusampaikan bahwa aku yang akan
mengajar, Bapak itu tampak ragu-ragu. Beliau mengeluarkan perkakas sambil
menggumam “digantikan asisten tho…”

Ha???

Ah, sudahlah.

Aku masih mengecek slide sewaktu suara
gemuruh campur celetukan terdengar. Kulihat dari pintu ‘gerombolan si berat’
berdatangan. Seseorang dari mereka dengan gaya yang bersahabat menghampiriku.
“Kak, kami dari kelas B yang hari ini jadwal kuliah
pengantar praktikum. Kuliahnya disini ya Kak?”
“Iya Dik” jawabku, masih dalam twilight
state mendengar panggilannya.

Kuliah berlangsung juga, dan setelah
memasuki sesi diskusi beberapa pertanyaan muncul. Pun demikian yang terjadi
saat kuliah kelas A di minggu berikutnya.

“Kak kalau ini….”

“Mbak, bagaimana mekanisme…”

“Mbak…siapa sih namanya… maksud dari ini…”

Hal yang betul-betul mengejutkan tetapi
sekaligus membanggakan. ‘Anak sekarang’ ternyata kritis dan hi-curiousity… two
thumbs up!. Tetapi… kenapa mereka bersepakat memanggiku ‘kak’ atau ‘mbak’?


Tahun ajaran berikutnya tugas mengajarku
ditambah satu topik lagi. Sewaktu membuat slide kutulis nama pembuatnya lengkap dengan
pelengkapnya dan nama bagian. Maksudnya sih untuk shouting out bahwa aku ini
staf pengajar lho whehehe…


Tetapi seperti kata bijak: manusia
merencanakan Tuhan menentukan. Selesai kuliah beberapa mahasiswa mendatangiku “
Kak, ngopi pptnya doong…”Berbagai macam kabel dari berbagai macam gadget
dicolokkan ke laptopku ( eh salah…punya BMOM ding). Sewaktu berjalan ke kantor
seorang mahasiswi menyapaku “Mbak, mbak ini temannya itu ya…”.
Aku nyengir. Baru kusadari bahwa jaman ternyata betul-betul telah berubah
:)


Di ruang CTMP aku berdiskusi ringan dengan
beberapa senior wanita. Tercatat dua generasi mahasiwaku memanggilku dengan
panggilan mesra “kakak” atau “mbak”. Beberapa mulai memanggilku “Bu” di kampus
tetapi kalau ketemu di jalan atau di kosan ya kembali lagi panggilan mesra yang
dipakai. Sejujurnya ini tidak pernah sekalipun menjadi masalah buatku, ( ada
gitu wanita yang protes kalau dibuat awet muda…ehm…) tetapi ini kan semacam fenomena yang boleh dong dijadikan topik obrolan. Para senior wanita ini lalu berbagi cerita bahwa mereka juga mengalami hal serupa, hanya saja di tempat praktek bukan di kelas. Tetapi mereka akhirnya bisa mengatasinya.

“Caranya bagaimana Bu? Saya sudah
memproklamirkan diri lho kalau saya ini ibu guru” Kuceritakan perihal nama yang
kutulis di slide yang kubuat.

“Oh itu kurang jitu, pakai cara yang
mujarab dong…”

Lho, ada tho? Dengan semangat kuminta
dibagi caranya.

“Pakai make-up sewaktu mengajar. Gampang
kok…”

Tuing…tuing… Pakai make-up? Waduh. Dekil
begini saja fans club ku sudah kesulitan menolak member…wekekekek… Becanda
ding.
It’s just so not me. That’s all.

So, my dear and proudable (ex?) students…
please call me as you like: kak, mbak, uni, bu, mam, sister, miss…whateva deh.
Asal jangan panggil: mas, uda, pak, broer… atawa nenek, mak, mbah… hiks…tega
amat :P


Lagipula, katanya eyang Hipokrates, kita
ini kan sodaraan… ;)

 

(Pengalaman bekerja di kampus itu ternyata betul-betul
sebuah pengalaman. Alhamdulillah.)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dec
02
Filed Under (kisah) by tada on 02-12-2007

Sudah berapa kilometer ya panjang doaku? Aku
menghitung-hitung sambil menatap kubah masjid
Kobe yang tampak dari kejauhan. Sepertinya sejak dari rumah tadi segala macam doa sudah aku baca. Dari doa yang baik-baik seperti doa akan makan (??) sampai doa jelek yaitu berharap  bantuan-Nya supaya hari ini tidak ada murid yang datang… :P

Sewaktu kudapati sister Maryam sedang duduk
di ruang sholat aku seperti ingin melonjak kegirangan…akhirnya..doaku
terjawab!Yess…! Tapi ternyata alasanku untuk ge-er kurang cukup. Sister
memelukku sambil berbisik: “ gomenne..kyo ha yoji ga aru kara…”

Semenit kemudian aku sudah berdiri di depan
kelas. Kupandangi satu-satu wajah murid-murid yang hari ini kompakan datang
telat setengah jam itu. Lho…kok ada wajah-wajah senior kelas advanced? Jadi
tadi pagi sister Iman memberiku buku tata bahasa arab itu maksudnya untuk
mereka? Whaaa… aku belajar bahasa arab itu sudah hampir 15 tahun yang
lalu..*#$%’??!!!***+ God knows what will happen to this class..hiks… And wait a
minute…tidak ada satu anakpun di kelas ini yang berbahasa inggris? Nah…ini
berarti doaku harus kupanjangkan lagi…

Pertama-tama aku masih berlagak cool. Membagikan
kertas huruf hijaiyah lalu meminta murid-murid kelas pemula mengerjakan
assignment mereka. Sengaja kubagikan empat kertas sekalian, biar selesainya
lama hehehehe… Tiba-tiba…

“sensei, kore kowarete iru ne..bla-bla-bla…”
Aku menghampiri automatic sharpener di pojok kelas. Kuutak-atik (berlagak
ngerti padahal…bisa tambah rusak nih barang di tanganku :P ) kubongkar,
kubersihkan sampahnya lalu kupasang dan…tidak berhasil. Aku pasang cengiran
yang termanis di wajahku. Mereka mengusulkan mencari cadangan di ruang guru.
Aku yakin 100% tidak ada, tapi kukerjakan juga (trik mengulur waktu ;) ). Akhirnya
masalah selesai sewaktu seorang murid kelas advanced menyodorkan rautan pensil
manual miliknya.

Papan tulis kubagi dua.
"OK, sisi ini kelas atas dan sisi sebelah  sana kelas bawah ya!" jelasku
dengan bahasa jepang yang sok yakin. Seorang murid dari Malaysia yang baru saja datang langsung nyeletuk: "maksud sensei gimana sih? Kelas up apa low sensei?" Aku terbengong-bengong menyadari bahwa selama ini kelas “upper” itu
memakai ruang kelas di lantai bawah. Nahloh…aku malah bikin kacau…

Bagaimana cara menjelaskannya? Ah, sudahlah
aku tulis saja bahan pelajaran mereka. “Jaa, minna.. ‘fi’ to ‘ala’ mo
benkyoushimashitayo..” Kutulis di papan: fi almadrasah. Kubuka buku untuk
mencari contoh kalimat. Tuing…tidak ada. Yang ada malah kalimat memakai kata
kerja dengan susunan yang aku belum pernah baca. Somebody please tell me before
dong kalau bahasa arabnya Mesir itu beda sama Saudi…hiks! Anak Malaysia mengacungkan tangannya “my friend sensei, my friend is at the school” Waaa…apa
ya bahasa arabnya friend? Kuganti dengan kalimat ‘fi al bait’ mereka langsung
protes..”kazoku no kotoba mada benkyoshinai yo…”. Baru aku mau menulis kalimat
baru anak Malaysia tadi nyeletuk lagi: sensei, bahasa arabnya sofa apa? Tuing…please deh Malaysia.. wkwkwkwk.. :P

Entah siapa yang memulai tiba-tiba berbagai
usulan tentang kegiatan hari itu bermunculan. Aku permisi ke ruang guru
sebentar lalu kembali membawa dua buah buku cerita. Kupandangi wajah-wajah
malaikat itu.

“Listen…” suaraku menggantung. “Gomen nasai
ne…nihongo ha amari jouzu ni dekimasen…yoroshiku…”

Mata mereka berkilat-kilat jenaka..”Sore ha
shiteruyooo..” Kompak bersahut-sahutan. Aku terkaget-kaget. Lho? Mereka tahu
kalau gurunya ini tidak bisa ngomong jepang? Jadi apa maksudnya selama ini
mereka suka deket-deket lalu curhat segala macam, dari tentang gigi tanggal,
plaster hansaplast loreng-loreng zebra, ultah yang hampir datang,  setip baru, makan sushi untuk bangohan, supermario
bros, de-el-el…de-el-el…

Pelajaran hari ini ditutup dengan membaca
buku cerita bergiliran. Untung sister Maryam berbaik hati menterjemahkan serial
“Quran for the Little Hearts” ini.

Seorang murid mengajakku bermain lompat
tali sewaktu menunggu sholat dhuhur berjamaah. Seorang kakak mengajariku
memakai main make up-make up an dari perkakas yang dia buat dengan kertas tissue, adiknya
mengajariku main jual-jualan dengan uang kertas bertuliskan nol terbanyak yang
pernah kulihat (ada enam puluh angka nol dibelakang angka satu!).

Aku merasa ada sesuatu yang lapang dan ringan dalam diriku . Sewaktu
berjalan pulang, di depan hotel Honjin ada suara-suara memanggilku “sensei…sensei…popumi..”
Tiga orang gadis kecil cantik blasteran jepang-pakistan berlari-lari dalam barisan
menyalipku. “Popumi sensei…popumi sensei..” mereka menyeberang masuk ke Toko Kobe
Halal Food. Aku mengikuti mereka, membeli 2 kg daging ayam halal sambil mmeperhatikan
mereka membeli pop mie rasa tomat dan sibuk meracik sendiri dengan air panas
dari waterpot.

Sewaktu aku beranjak keluar salah seorang
dari mereka memanggilku: “kayoubi sensei, asatte, yomiuri terebi,wasurenaide!” Toko
ayahnya ini akan masuk dalam liputan TV swasta.

Beberapa jam kemudian, di rumah kudapati
sister Iman meninggalkan pesan dalam hpku, meminta maaf karena aku harus
mengajar sendirian hari ini.

Aku tersenyum. Senyum yang rasanya tidak akan pernah habis. Sungguh tidak ada yang perlu
dimaafkan. Aku melakukannya dengan senang hati. And take a look at me now…I
wasn’t teaching anything today…I was taught, by sweet little angels…

How amazing children are… Loving them is
definetely something you need no reason to do…

 

Kobe, 2 Des

 

Nov
27
Filed Under (gesah) by tada on 27-11-2007

Ajib tenan…

Bertemu beberapa orang dari kampung halaman dalam waktu kurang dari sebulan. Baik online maupun langsung. Bebas merdeka ngomong berbagai topik memakai dialek kampung yang sebetulnya sudah bertahun-tahun kami tinggalkan, atau terkontaminasi dialek daerah tempat kami melanjutkan fase pertumbuhan. Bukannya bermaksud primordial chauvinist, tapi aktivitas sebulan ini seperti rombongan layar tancap yang memutar kembali kenangan akan kampung halaman.

Ada teman yang bertanya: Pekalongan itu dimana sih? Whahahaha…di jaman wikipedia dan google earth semacam sekarang, pertanyaan itu mendingan tidak usah dijawab saja hehehe… Banyak yang bisa diceritakan tentang kota yang letaknya persis di tengah-tengah jalur jalan Daendels Jakarta-Surabaya ini. Bagiku sendiri, yang selalu berkesan dari kampungku ini adalah:

1. Makanannya! Sebagai penggemar kuliner sejati (eufimisme dari doyan makan kqkqkq) makanan Pekalongan adalah unik dan beda, tidak bisa ditemukan di tempat lain di Indonesia (apalagi Malaysia..upsss). Megono, tauto, pindang tetel, dawet podo, poci-poci, oreg-oreg, gulai kacang ijo, dll…dll… Dari bagian pesisir sebelah utara sampai perbukitan di sebelah kidulan (selatan) ada makanan yang rasanya bener-bener layak disebut masakan. Jangan-jangan ini berhubungan dengan status kampungku yang di buku teks interna disebut sebagai wilayah dengan DM tipe 2 tertinggi se-Indonesia yah..? Au ah gelap.

2. Orang-orangnya. Secara keluargaku tinggal di salah satu wilayahnya, bab ini tidak perlu dijelaskan. Tapi yang khas menurutku adalah rasa kekeluargaan dan budaya egaliter yang sangat kental, khas masyarakat pesisir utara. Lelaki ataupun perempuan, tua ataupun muda, miskin ataupun kaya, punya kesempatan untuk eksis sebagai dirinya. Guru IPSku jaman SMA dulu sampai ingin menulis karya ilmiah tentang budaya memanggil teman dekat memakai p*****n yang dijumpai disini. Teman kuliahku berkali-kali mengklaim bahwa di kampungku orang-orangnya pasti saling kenal satu sama lain, secara dia mendapati kalau aku bertemu orang dari kampungku ya langsung nyambung saja. No comment deh.

3. Mataharinya! Maksudku matahari beneran, bukan supermarket matahari yang ada di dekat alun-alun depan masjid agung itu. Sebagai hasil kebiasaan Bapakku yang rajin mengajak melihat matahari terbit pas kecil dulu (sebagai upaya supaya aku tidak tidur lagi setelah subuhan kqkqkq..) aku jadi tahu bahwa kampungku punya pemandangan matahari terbit terindah di seluruh dunia (duniaku, tentu saja).

Dari pantai Slamaran kita bisa melihat matahari terbit lengkap dari fajar yang berwarna oranye kental di seluruh penjuru langit, pelan-pelan luntur lalu meninggalkan matahari bulat kemerahan menggantung di langit biru-putih terang.

Kalau melihat matahari bulat pas sunset sih biasa yah. Tapi pas sunrise itu lho…

4. Aksesnya. Secara letaknya tepat di pesisir utara di jalur yang konon tersibuk di Indonesia, kalau hendak bepergian kemana-mana kapan saja, mudah sekali. Semua kereta api jalur Surabaya-Jakarta transit disini. Segala bus malam, pagi maupun siang kalaupun tidak berhenti ya lewat dan mau dicegat (…dan Ibuku sering ngomel kebiasanku pulang kampung di malam hari dengan alasan efisiensi waktu, perjalanan=tidur hihihihi). Kecuali naik kapal…aku belum pernah coba, sepertinya sih belum ada, kecuali kapal ikan :P. Jadi kalau di kotaku dibangun airport wah…asyik juga kayaknya whehehehe…

5. Bahasanya. Nah! Aku sering ditanya: Fi, bahasa Pekalongan itu ngapak-ngapak ya? Hehehehe…maaf mengecewakan, tapinya jawabannya adalah bukan. Somehow, aku dapati segala jawabanku sepertinya tidak pernah memuaskan. Ya harap maklum, aku kan bukan ahli linguistik. Yang jelas bahasa kampungku itu khas, dengan vocabulary campuran bahasa belanda, melayu, arab, mungkin cina juga dan jawa pesisir. Konon sedang disusun kamusnya, jadi kalau mau tahu, nanti pas kamusnya sudah terbit, pada beli ya! ( bantuin promosi ah…).

6. Ikannya! Lho…ini sebetulnya nyambung nomor (1). Bener lho, ikan Pekalongan itu enak dan enak dan enak. Mungkin karena ikan yang dijual di pasaran ataupun diolah relatif masih segar-segar. Yang jelas banyak pilihan berbagai hasil laut dan…ini ni yang sangat penting: harganya murah! Pokoknya bikin surprise deh…

7.8.9….masih banyak lagi deh..

Duuhh..aku jadi kangen kampung, pingin pulang…hiks-hiks huaaaa….

Nov
19
Filed Under (gesah) by tada on 19-11-2007

It was a simple plop. But why, as others call it jungle, in my mind it is always just a big comfort village. Both a heartthrob of my cognitive chi and a permitted escape. What a weird to feel like being dragged out when I was supposed to leave.

It was another plop. Another stroll over familliar atmosphere. I was busy telling myself to stop feeling at home. It has never been painful and it will not. This is a decision, something you are aware of. Yet, there I was. Standing in front of my wonderland and laughing very hard for a cowardice.

It was a different plop. It was like a kick, so I was startled. Old beliefs that I almost forgot. Reminded me of a pair of old hands working on the operating table. Age does not come with wisdom, sometimes it comes alone.

There I was, so blessed with a fruitful connection. I was exposed and I absorbed. I observed and I learned. I was observed and I was taught.

Inside myself, I am always at the same age…why deny?

Being special is simply a human right.

Oct
01
Filed Under (gesah) by tada on 01-10-2007

 

Memandang langit menghitung bintang menebak awan

Mengukur jalan melangkahi bebatuan melambai rerumputan

 

Menikmati pagi matahari terbit melukis langit megah

Indah dari balkon belakang rumah

 

Ketika terbenam membawa warna senja Ramadhan

 

Sedang ingin sendiri saja

 

Menuntaskan jual beli

Menilik kedalam

Menimbang neraca

Menghitung karunia

 

Lalu semua berjalan

seperti angin berhembus lembut

lewat kasa jendela

 

Aug
23
Filed Under (gesah) by tada on 23-08-2007

aku berdiri dalam kerumunan dan bayangmu melintas. entah apa yang membawaku mengingat kembali segala bait dan kisah yang kita tulis bersama-sama. apakah peluh yang tak mengalir. penat menyergap tungkai memenjara. ataukah pekerjaan yang melontarkan dari sekedar meletakkan tubuh di kursi sebentar saja.

apakah yang sedang kualami hari ini? segenap syukur bercampur percaya bahwa semua akan baik-baik saja. dihadapanku ini sesosok tubuh dalam usia nyaris sama denganmu. jatah hidupnya yang kami coba perpanjang lewat misi selama 8 jam. kusangka hanya arogansi kami dan pisau kami dan optimisme yang naif. sembilan bulan yang kami tawarkan seperti bermain tuhan-tuhanan. rambut putih menyeruak keluar dari tudung hijaunya. kerut kulit terlihat jelas disela seliweran pipa dan sungkup oksigen. aku menatapnya sekilas dan kuingat kulitmu yang cemerlang walaupun usia melukisi beberapa ruas disana-sini.

apa yang sedang kulakukan disini? pegal memakuku ke lantai berlapis nylon biru. hari ini sang guru mengajari satu demi satu ilmu bercampur pengalaman. aku menyimak tangan seniman menarikan tarian jemarinya. aku nyaris yakin kukunya punya retina.dan kutekuni setiap kata  menuturkan hal yang menurutku hampir seperti ramalan yang sempurna.

apa yang sesungguhnya terjadi denganku? sebuah hari yang penuh rupa. dengan segala kegagalan berpadu pencapaian. kemarahan dilukisi maaf dan pemakluman. setiap hari penuh nuansa. bukankah hidup memang harus banyak warna. karena itulah kita sebut hidup. kutoleh ke belakang jalan yang membawaku disini sekarang. betapa berliku jalurnya. betapa membingungkan petanya. kulihat didepanku, sesosok tubuh segunung perkakas. lampu diatas kepala sudah dua kali menghantam ubun-ubunku. lebih banyak lagi jalur terbentang. jadi kemana gerangan perjalanan ini akan membawaku?

kepada siapa aku menanyakan pertanyaan yang menjengkelkan ini? bahkan akupun tak punya daya dan nyaris kesal setiap ia kutanyakan lagi. membuatku terpaksa berurusan dengan definisi. karena engkaulah berlian yang punya banyak sisi. karenanya engkau berkilau cemerlang. akupun terjaga. cukuplah ia menjadi rahasia kita berdua.

kelopak mata keriput itu terbuka. apa spacer-nya jadi dipasang? adalah pertanyaan pertamanya. kami memotong tumormu bu. dan terbata-bata ucapan terima kasih penuh airmata. ia mestinya tidak menyadari ketika matanya terpejam lagi dan terkulai kepalanya ke samping. kata-katanya lebih mujarab dari morfin dalam botol epiduralnya.

jadi begitulah setiap orang menulis sendiri kisah hidupnya.

apa yang kupelajari hari ini? aku berdiri berselubung baju hijau lengan panjang pinjaman anestesi. aku letih. aku ingin pulang. ke suatu tempat yang tidak sepenuhnya kumengerti. tapi ketika tadi berada disana. sebentar saja, aku tahu memang aku sudah seharusnya pergi.

dan engkau. segenap cintamu dan dukungmu dan ayommu. dan hangatmu dan kata-katamu yang tak terucap. dan bimbingmu dan sentilmu. dan sedihmu dan lelahmu dan peluhmu. ternyata kuingat dengan baik setiap bait. setiap lukisan. setiap gambar. setiap rasa. setiap rupa.

engkau memang tidak menemani. tapi engkau membuatku berani berjalan sendiri.

Aug
02
Filed Under (gesah) by tada on 02-08-2007

いま私の 願いごとが
かなうならば 翼がほしい
この背中に 鳥のように
白い翼 つけてください

この大空に 翼をひろげ
飛んで行きたいよ
悲しみのない 自由な空へ
翼はためかせ 行きたい
いま富とか 名誉ならば
いらないけれど 翼がほしい

子供の時 夢見たこと
今も同じ 夢に見ている
この大空に 翼をひろげ
飛んで行きたいよ
悲しみのない 自由な空へ
翼はためかせ 行きたい

Jul
09
Filed Under (belajar) by tada on 09-07-2007

Disusun oleh Mahatma Gandhi untuk cucunya, Arun Gandhi.

Tujuh Kebodohan Dunia:

1. kesejahteraan tanpa bekerja

2. kebahagiaan tanpa hati nurani

3. pengetahuan tanpa karakter

4. perdagangan tanpa moral

5. ilmu tanpa rasa kemanusiaan

6. peribadatan tanpa pengorbanan

7. politik tanpa prinsip

Gotta keep ‘dis in ma mind…

Jun
28
Filed Under (belajar) by tada on 28-06-2007

Ada cerita nih…

Konon, di abad Pertengahan, surgery atau pembedahan tidak dikerjakan oleh dokter tetapi oleh barber. Barber? Yang menurut kamus berarti tukang cukur? Begitulah. Tukang cukur pada masa tersebut tidak hanya memotong rambut, trimming dan mencukur jenggot atau kumis, namun juga membedah luka, juga melakukan praktek yang berhubungan dengan darah (semacam bekam, cupping, leeching), enema dan mencabut gigi (wah…bener-bener one stop shooping ya).. Atas praktek inilah maka mereka ini disebut sebagai barber surgeon dan membentuk organisasi pertama pada tahun 1094. Para pembedah ini bukan lulusan sekolah kedokteran dan praktis adalah penjual jasa dengan keterampilan mengamputasi anggota gerak atau mengambill batu saluran kemih. Kemampuan ini didapat lewat proses magang. Praktek barber surgeon ini merupakan praktek kedokteran yang lazim pada masa itu. Para barber surgeon biasanya tinggal di kastil untuk melayani kaum kaya dan berada.

Edward IV di tahun 1462 membentuk asosiasi untuk para tukang cukur ini “The Company of Barbers”. Para tukang bedah lalu membentuk organisasi sendiri 30 tahun kemudian “The Fellowship of Surgeons” (saat itu eksis sebagai profesi tersendiri, namun tetap bukan seperti dokter pada masa sekarang). Henry VIII pada tahun 1540 menggabungkan dua organisasi ini menjadi "The United Barber Surgeons Company" karena mendapati bahwa pada kenyataannya banyak tukang cukur ataupun tukang bedah melakukan kedua praktek dimaksud.

Bisnis jasa bedah ini mendapat tekanan dari profesional medis. Tahun 1745, lewat peraturan yang dikeluarkan pada masa kekuasaan George II, para tukang bedah memisahkan diri dari para tukang cukur membentuk organisasi “The Company of Surgeons”. Para tukang bedah ini mendapatkan gelarnya dari ‘Masters, Governors and Commonalty of the Surgeons of London’. Badan ini kemudian dibubarkan dan diganti dengan The Royal College of Surgeons pada tahun 1800, masa kekuasaan George III. Pada perkembangannya peran badan ini selainmeliputi seluruh Inggris, kolegium setara dengannya juga dibentuk di Scotland dan Ireland serta koloni UK lainnya.

Adanya hubungan antara “barber-surgeon” dengan sisi medis profesi ini secara historis dapat dilihat dari tanda merah dan putih (barber’s pole) yang biasa dipasang diluar toko cukur. Konon warna tersebut melambangkan darah dan perban yang menggambarkan peran profesi ini di jaman dahulu. Jejak lain adalah sebutan Mr dan bukan Dr yang dipakai di Inggris untuk para konsultan dan registraar bidang bedah saat dianugerahi diploma MRCS atau FRCS. Hal ini seperti yang terjadi di masa lalu saat para ahli bedah mendapat diploma RCS dan bukan suatu University Doctoral Degree. Meskipun masa sekarang ahli bedah harus lulus sekolah kedokteran dan spesialisasi bedah (syukurlah…) tapi adat ini sepertinya masih dipertahankan.

Penjelasan lain adalah bagian dari sumpah Hipokrates yang berbunyi: “I will prescribe regimens for the good of my patients according to my ability and my judgement and never do harm to anyone,". Tidak akan menyakiti/merusak ( do no harm) sementara pembedahan secara alami tentu saja “does harm” alias menyakiti pasien, sehingga ahli bedah dianggap tidak layak menyandang gelar “Dokter”.

Batasan “doing no harm” ini meliputi wilayah prescribing/pengobatan dan juga operating/bedah. Para praktisi Yunani pengikut Hipokrates juga melakukan kedua praktek tersebut. Pemisahan antara prescribing dan operating ini lahir di masa kemudian ketika Gereja Katolik lewat Council of Tours pada tahun 1169 membatasi praktek pembedahan yang dilakukan oleh dokter klerikal lewat pernyataan "Ecclesia abhorret a sanguine" yang meletakkan seni bedah dalam posisi lebih inferior.

Ohya, perubahan titel menjadi “Mr” “Mrs” dan “Ms” ini hanya terbatas di UK, dan tidak diterapkan di negara lain yang juga mengadopsi sumpah Hipokrates. Perlu juga dilihat sejarah penggunaan gelar “Mr” masa dahulu berbeda dengan yang dipakai saat ini (yang mana dipakai untuk menyebut semua pria).

Penyebutan ahli bedah dengan “Mr” (dll) sudah banyak ditinggalkan di negara-negara Persemakmuran. Di British Isles, seorang pemegang FRCS yang berpindah ke bidang non-bedah cenderung kembali menyebut dirinya dengan “Dr”. Di Skotlandia, hanya ahli bedah tertentu yang mengubah diri menjadi “Mr”. Di Edinburgh ophtamologist, ahli bedah THT dan obsgyn tetap disebut “Dr” sementara di kota lainnya lebih cenderung seperti di Inggris.

Wallahu’alam. (Hmm jadi kepingin ketemu ahli bedah dari UK nih..)

Ohya, di Indonesia ahli bedah kan juga punya panggilan khusus ya…yaitu: “Pak” hehehe…

(source: www.en.wikipedia.com)

Dipersembahkan untuk teman-teman di Bagian Bedah FK Undip/RSDK. Selamat ber IKABI ria di Yogya!