Aug
04

Salak is another side of me

Filed Under (gesah) by tada on 04-08-2008

 

Warning: tulisan ini ditulis dalam past memory flooding mode on, akibat yang tak dapat dihindari dari ‘perbincangan tingkat tinggi’ di forum YM dengan belahan pinang nun jauh disana !

 

Salak, buah kecil nan praktis segenggaman tangan. Bercerita tentangnya membuka ingatan tentang masa kecil, sepeda merah kecil tanpa standar yang cukup dilempar untuk parkir. Betapa sukanya aku akan buah ini! Secara kongenital bukan penggemar jajanan alias snack maka varianku ya itu-itu saja, dari dulu hingga kini (lots of friends out there yang setia mengupdate rekomendasi tentang snack-snack baru, thanks guys!).

Tetapi salak adalah yang menyapu hilang rasa bosan ritual ke kantin sekolah. Rasa gembira sederhana yang sulit dilukiskan saat mengayuh sepeda memperluas wilayah jelajah ke warung dekat kelurahan, mengubah niat membeli singkong goreng kala tukang pisteta dekat es bambang ternyata sedang memajang salak be-es di displaynya.

 

 

Ketika suatu hari seorang teman bercerita tentang Kaji Buah, lalu mengantarku ke rumah yang megah. Kami berdua menunggu di depan krei garasi yang berkilat. Pembantunya terheran-heran sewaktu kami bilang akan beli salak. Saat kami akan pulang dengan lebih heran penuh sangsi karena mbak itu bilang tidak jual, seorang Ibu memanggil kami dan menyodorkan 5 biji salak seharga seratus rupiah. Itu Ibu Kaji. Barangkali kami ini customer retail pertama dan satu-satunya. Harganya lebih murah satu butir dari tukang pisteta tapi aku trauma dengan panasnya plesteran semen di telapak kaki saat menunggu birokrasi jadi tidak pernah kembali (yah, mestinya aku beli satu kontainer kali yak :P).

 

Musim salak berarti sepanjang waktu jari-jariku penuh bekas goresan, tak sempat menyembuh. Bukan pemilih; manis, sepat ataupun pera, aku suka. Biji tidak langsung kubuang. Dengan pisau pames kuukir pola pasley, kusimpan di deswar lalu menghilang entah oknum mana yang rajin membuangnya. Salak yang pera bijinya hitam kelam dan kering, sulit diukir tapi kontras warnanya aku suka.

 

Manisan salak adalah pelengkap ritual membuang diri yang kadang kulakukan dengan salah satu partner in crime (V for vendetta :P I’ll go anonym). Satu ons 2500 rupiah, mahal untuk ukuran uang jajan kami maka patungan adalah jalan keluar. Bermotor berdua dari Kalibanger ke Gajahmada, lalu duduk di kolam gedung DPRD. Makan manisan salak sampai habis lalu pulang dengan kepala lebih ringan (Peringatan Pemerintah P. No. 1: you can never understand teenagers!)

 

Salak adalah suatu hari yang panas, pantai Slamaran. Kami sekelas biologi baru praktikum biota pantai. Aku dan another partner in crime (D for don’t want to tell) duduk di pondok kecil menanti angkot. Serombongan bolokurowo bermotor mendekat dan membawakan seplastik besar salak hasil jarahan kebun di tepi pantai. Ternyata hari itu hari ulang tahunku. Hadiah terindah adalah ketika para penjarah itu mati-matian meyakinkan kehalalan benda syubhat itu :P

 

Tentang lazy sunday di kamar kos, menghabiskan sebesek besar salak pondoh Sleman hadiah dari calon kakak ipar yang kujuteki, simply because he wanted to be my kakak ipar. Bagaimana dia bisa tahu cara melunakkan hatiku ya? Hahahaha…Cerita lucu tentang sebesek lain dari sepasang kakak kelas (D for doubtless dan B for be bold) yang menjengukku saat terbaring kena tifoid (did I say thyphoid? yups!).

 

Atau ketika a dear woman (B is for beauty) menyodorkan dua butir salak bule ke tanganku sewaktu kami berjalan beriringan pulang dari kondangan…( how does she know? a question left unanswered).

Pertama kali tiba disini, menjadi mahasiswa asing pertama dan satu-satunya. Pertanyaan pertama tentang Indonesia dari teman lab ku adalah: do you know salak? Terebi de mitte, hountoni tabetai desu! Ouch.

 

Another side of me juga adalah sawo, manggis, nangka hutan dan nanas. Tetapi hari ini, setelah semalam di lab seorang teman sharing tentang mencari tiket garuda, lalu yang lain berbagi tentang rencana pulang saat lebaran. Berlanjut dengan pertemuan online tak terduga dengan sahabat tercinta (H stands for hikmah). Entah mengapa, aku teringat saja.

 

Something episodic. An acute homesick. Akan berlalu, aku sadar penuh tentang itu. Tapi kali ini, biarkan aku menikmatinya…

 

 

 



6 Comments Already, Leave Yours Too

GENGHIS KHUN on 17 August, 2008 at 5:06 pm #
    

Request artikel: Tentang nanas donk.. ;)


Helfi on 19 August, 2008 at 7:00 pm #
    

:D serpihan-serpihan memori dikumpulkan… Ananas comosus (L) lllll22%
tunggu deh…ga janji sih ;)


Nana on 26 August, 2008 at 11:26 pm #
    

Salak pondoh is the best, what do you think? :)


budi gepenk on 13 September, 2008 at 10:58 pm #
    

hahaha!!!!, akhire aku sadar fi, salak menjadi SANGAT BERARTI.
jujur, aku dewe paling ogah ber “asyik masyuk” karo salak, soale tau bebelen (sik ngerti bahasa kwi?) gara gara kakehan mangan salak….
hehehe
nek MEGONO piye? kangen rak ??


tada on 15 October, 2008 at 7:27 pm #
    

Ms. Nana.. as a ’salak freak’ i think my tastebuds have gone numb.. Jadi salak apapun ayo aja hehehe..


tada on 15 October, 2008 at 7:28 pm #
    

Peng, mengko nek dolan ning ngomahmu disuguhi salak ra.. ojo megono thok :P


Post a Comment
Name:
Email:
Website:
Comments: