sekedar menuliskan apa-apa yang sulit dikatakan
Ternyata ini topik yang tak kunjung berhenti episodenya. Aku ingat waktu itu di bangsal bedah saraf, duduk berhadapan dengan kakak kelas residen bedah. Entah dapat ilham darimana dia tapi kesimpulan pembicaraan kami waktu itu (yang berjalan searah) adalah betapa enaknya menjadi dokter umum wanita, boleh memilih spesialis manapun yang disuka, sementara pria harus berpikir mana yang akan memberikan jaminan hidup lebih baik.
Aku sungguh tidak mengerti maksud pembicaraannya. Sebab aku tidak bisa mengerti orang yang menghabiskan usianya melakukan sesuatu yang tidak disukai, Lalu aku bertemu teman pria, di usia yang hanya selisih 2 tahun dariku, dia sudah sangat tahu apa yang dia cari dalam bekerja. Karier yang gemilang di sebuah bank swasta ditukarnya dengan posisi yang tergolong pemula di bank pemerintah. Keherananku dia jawab dengan lugas: “Gajinya enam kali lipat, bow!” Lah…ini orang yang hampir empat bulan sebelumnya bolak-balik curhat padaku tentang cintanya pada pekerjaan. Ternyata cintanya tak setia. Hahaha..
Sesudahnya jamak sekali kudengar, begitulah pria dalam memilih pekerjaan. Penghasilan adalah benchmark apakah pekerjaan itu bagus atau tidak. Beberapa teman malah mengungkapkan pendapat ini berdasarkan referensi literature teori Mars-Venus. Konon karena pria dari sononya punya naluri sebagai breadwinner . Sementara bagi wanita bekerja hanyalah pilihan saja, sehingga lebih memilih kenyamanan dan kesesuaian dengan hati.
Memang beberapa teman wanita kudapati alasan berpindah kerja semata-mata karena ‘tidak konek’ atau ‘tidak sreg di hati’. Tetapi toh bukan seorang dua orang yang bersedia mengorbankan cita-cita pribadi (menikah, punya anak) karena pekerjaan yang bergaji aduhai mensyaratkan demikian.
Dalam perjalanan kemudian aku mendapati seorang teman pria yang dengan cueknya melepas pekerjaan makmur di suatu negara kaya, hanya alasan klasik: tidak enjoy! Lalu dengan bebas merdeka memilih menjadi freelancer saja. Ada lagi yang melepas pekerjaan bergaji 4 digit USD karena visi perusahaan ternyata berseberangan dengan idealismenya.
Di salah satu acara reuni Wanalana, aku pernah memergoki diskusi dua seniorku. Bagaimana mendefinisikan kesuksesan? Hukum alam menuliskan bahwa reuni sering mendatangkan pertanyaan-pertanyaan semacam ini. Salah satu dari mereka menjawab dengan lugas. Kesuksesan adalah memenuhi ukuran yang dibuat sendiri. Bekerja pada bidang yang diinginkan melakukan pekerjaan yang memang diinginkan, itulah kesuksesan.
Sempat terlibat obrolan dengan salah satu alumni SMA angkatan super jadul. Awalnya dalam rangka meminta tolong untuk teman yang berbisnis mutiara, ia menyebutkan ketidaksukaan pada etos kerja salah satu kelompok suku. “Mereka cuma mau cari uang saja, tidak mau bekerja!” Baru kali itu aku mendapati bahwa bekerja dan mencari uang adalah sesuatu yang berbeda. “Dalam bekerja ada proses learning, mengasah kemampuan diri lewat pembelajaran untuk menjadi lebih baik”, begitulah penjelasan beliau.
Ini membuatku berpikir, ternyata sama sajalah wanita dan pria dalam memandang bekerja. Jadi kata siapa man from Mars woman from Venus? Lebih tepatnya barangkali, both are from Earth. Tidak ada hubungannya dengan jenis kelamin. Setiap orang punya pertimbangan sendiri bagaimana ia memutuskan menjalani pekerjaannya. Terlebih keputusan yang dibuat adakalanya bukan keputusan pribadi, tetapi menyangkut hajat hidup orang banyak.
Bila mengacu pada definisi kakak kelas jadul itu, berarti esensi hidup adalah bekerja, bukan? Karena ada proses learning di dalamnya, proses yang tak kan pernah usai.
(ayo teman, kamu bisaaaaa!….eh, kita lagi ngomongin apa sih???)
Jd pengen cepet2 kerja xP
biar bsa mengesensikan sendiri kerja vs cari dwit itu seperti apa
Siip deh…! Opeb pasti bisa!