sekedar menuliskan apa-apa yang sulit dikatakan
What is the most daring and amazing journey we can make in a lifetime? We can travel to remote places, like adventurers, explorers or cosmonauts; we can look at even more distant places, like astronomers; we can visit the past, like historians, archeologists, evolutionary biologists or geologists; or we can delve deeply into human soul, like artists or psychologists. All these voyages lead either to other places or to other times. However, we can do better.
The most daring trip of all is not the one leading to the most inaccessible place, but the one leading to where there is no place at all. Such journey implies leaving the prison of space and time and venturing beyond it, into a domain where there is no position, no present, no future and no past, where we are free of the restriction imposed by space and time, but also of the mental reassurance that these concepts provide. In this domain, many new discoveries and new adventures await us. Almost nobody has ever been there; humanity’s journey there has so far taken at least 2500 years, and is still not complete.
To venture this domain, we need to be curious about the essence of travel itself. The essence of travel is motion.
(Motion Mountain-Christoph Schiller)
-ouch, sakit!telingaku dijewer :’(-
Cinta lama yang bersemi kembali. Atau makin bersemi? The flame remains there, anyway. Setelah sebelumnya aku sibuk memburu ‘the Nature guy’ dan kami berbicara tentang Her-2 negative breast cancer. Berpikir praktis sepertinya aliran para scientist Jepang, kalau tidak berbicara alat baru ya pendekatan terapi baru. Secara protokoler barangkali idenya tidak 100% orisinal, tetapi sungguh layak dikagumi. Bagaimanapun Her-2 negative breast cancer patients adalah kelompok yang memang ada. Reseptor temuannya itu mudah-mudahan benar suatu harapan terapi baru yang menjadi nyata.
Ada suatu alasan personal khusus ketertarikanku dengan Herceptin. ( http://inihelfi.multiply.com/reviews ).Jadi lihatlah aku, terkagum-kagum untuk kedua kalinya dalam meeting ini, ketika topik reversal resistance of Her-2 postive breast cancer to trastuzumab dibawakan dalam forum. Kekaguman yang perih. Teringat masygul yang kurasa sewaktu mengumpulkan data ER/PR status 2 tahun yang lalu. Terapi yang harganya bikin kening berkerut seperti rok anak SD, itupun tidak kemudian membuatnya mampu terbeli. Kemewahan yang hanya bisa terjangkau justru oleh para pemegang Askes Gakin (dengar2 kelanjutan ceritanya berubah ya?). Tetapi kan sama juga boong (pinjam istilahnya Dono Warkop) kalo status reseptornya tidak dicek dulu.
Maka lihatlah ia, bicara tentang unresponsiveness. Lebih ‘sama juga boong’ adalah karena bahkan breast cancer yang overexpress Her-2 receptor juga belum tentu berjodoh dengan trastuzumab. Sungguh tidak sopan. Her-3, Met, TGFalpha…betapa banyaknya deretan alphabet yang menjadi nama. Lalu diskusi yang dilingkupi keprihatinan. Bagaimana meyakinkan kolega klinikus agar melakukan biopsy ulang pada kasus relaps pasca adjuvant Herceptin? Dr. Brown bertanya penuh empati. Prof Gray malah meloncat lebih jauh: bagaimana mendesain clinical trial untuk temuan ini.
Kusimak dan kucatat sebaik mungkin. Tetapi sesungguhnya aku punya pertanyaan yang lebih besar, yang begitu besarnya sehingga hanya bisa kutanyakan dalam ruang diskusi batinku.
Ya Allah, jikalau Engkau mengizinkan, apalah yang tidak mungkin terjadi? Para wanita disana itu, mestinya adalah ibu seorang anak, mbak seseorang, atau cucu seorang kakek, sahabat seorang wanita lain, pastinya anak perempuan yang menyejukkan hati seorang bapak. It’s just not gonna be the same anymore without her… Karena adalah janjiMu bahwa semua ada obatnya. Dan kamipun memahami kewajiban ikhtiar dan tawakal. Maka bantulah kami..
Ternyata ini topik yang tak kunjung berhenti episodenya. Aku ingat waktu itu di bangsal bedah saraf, duduk berhadapan dengan kakak kelas residen bedah. Entah dapat ilham darimana dia tapi kesimpulan pembicaraan kami waktu itu (yang berjalan searah) adalah betapa enaknya menjadi dokter umum wanita, boleh memilih spesialis manapun yang disuka, sementara pria harus berpikir mana yang akan memberikan jaminan hidup lebih baik.
Aku sungguh tidak mengerti maksud pembicaraannya. Sebab aku tidak bisa mengerti orang yang menghabiskan usianya melakukan sesuatu yang tidak disukai, Lalu aku bertemu teman pria, di usia yang hanya selisih 2 tahun dariku, dia sudah sangat tahu apa yang dia cari dalam bekerja. Karier yang gemilang di sebuah bank swasta ditukarnya dengan posisi yang tergolong pemula di bank pemerintah. Keherananku dia jawab dengan lugas: “Gajinya enam kali lipat, bow!” Lah…ini orang yang hampir empat bulan sebelumnya bolak-balik curhat padaku tentang cintanya pada pekerjaan. Ternyata cintanya tak setia. Hahaha..
Sesudahnya jamak sekali kudengar, begitulah pria dalam memilih pekerjaan. Penghasilan adalah benchmark apakah pekerjaan itu bagus atau tidak. Beberapa teman malah mengungkapkan pendapat ini berdasarkan referensi literature teori Mars-Venus. Konon karena pria dari sononya punya naluri sebagai breadwinner . Sementara bagi wanita bekerja hanyalah pilihan saja, sehingga lebih memilih kenyamanan dan kesesuaian dengan hati.
Memang beberapa teman wanita kudapati alasan berpindah kerja semata-mata karena ‘tidak konek’ atau ‘tidak sreg di hati’. Tetapi toh bukan seorang dua orang yang bersedia mengorbankan cita-cita pribadi (menikah, punya anak) karena pekerjaan yang bergaji aduhai mensyaratkan demikian.
Dalam perjalanan kemudian aku mendapati seorang teman pria yang dengan cueknya melepas pekerjaan makmur di suatu negara kaya, hanya alasan klasik: tidak enjoy! Lalu dengan bebas merdeka memilih menjadi freelancer saja. Ada lagi yang melepas pekerjaan bergaji 4 digit USD karena visi perusahaan ternyata berseberangan dengan idealismenya.
Di salah satu acara reuni Wanalana, aku pernah memergoki diskusi dua seniorku. Bagaimana mendefinisikan kesuksesan? Hukum alam menuliskan bahwa reuni sering mendatangkan pertanyaan-pertanyaan semacam ini. Salah satu dari mereka menjawab dengan lugas. Kesuksesan adalah memenuhi ukuran yang dibuat sendiri. Bekerja pada bidang yang diinginkan melakukan pekerjaan yang memang diinginkan, itulah kesuksesan.
Sempat terlibat obrolan dengan salah satu alumni SMA angkatan super jadul. Awalnya dalam rangka meminta tolong untuk teman yang berbisnis mutiara, ia menyebutkan ketidaksukaan pada etos kerja salah satu kelompok suku. “Mereka cuma mau cari uang saja, tidak mau bekerja!” Baru kali itu aku mendapati bahwa bekerja dan mencari uang adalah sesuatu yang berbeda. “Dalam bekerja ada proses learning, mengasah kemampuan diri lewat pembelajaran untuk menjadi lebih baik”, begitulah penjelasan beliau.
Ini membuatku berpikir, ternyata sama sajalah wanita dan pria dalam memandang bekerja. Jadi kata siapa man from Mars woman from Venus? Lebih tepatnya barangkali, both are from Earth. Tidak ada hubungannya dengan jenis kelamin. Setiap orang punya pertimbangan sendiri bagaimana ia memutuskan menjalani pekerjaannya. Terlebih keputusan yang dibuat adakalanya bukan keputusan pribadi, tetapi menyangkut hajat hidup orang banyak.
Bila mengacu pada definisi kakak kelas jadul itu, berarti esensi hidup adalah bekerja, bukan? Karena ada proses learning di dalamnya, proses yang tak kan pernah usai.
(ayo teman, kamu bisaaaaa!….eh, kita lagi ngomongin apa sih???)