sekedar menuliskan apa-apa yang sulit dikatakan
Suara helikopter dari ringtone hape membangunkanku dari ‘babak kedua’ tidurku pagi ini (well, it’s winter anyway, hibernating is something
natural…:P). “Selamat ulang tahun Helfi…” Sebuah suara
yang hangat dan akrab menyambutku. Disambung dengan nyanyian lagu happy birthday yang merdu.
Aku terkantuk-kantuk tapi nyengir dengan sukses. Kalau seorang juara folksong
kawakan dan pop karaoke se-Kanto menyanyi lewat telpon untukmu, trust me,
dorongan mematikan hape itu ternyata tidak ada. Hehehe…
Bersepeda ke kampus, sambil kedinginan aku mencoba meyakinkan diriku bahwa hari ini adalah hari
ulang tahunku. Setelah sejak sebulan yang lalu beberapa kawan mengingatkanku
bahwa umurku akan segera diperpendek satu tahun. Ada pesan manis di YM. Ada paket berisi cokelat berbungkus kertas
kado ‘happy birthday’ (di suatu hari di bulan desember :P). Adik kelas yang minta
dimasakin (jadi nyesel pernah ngundang dia makan…hahaha…becanda ding!). SMS
dari long lost-friends. Pesan di FS. Kartu yang datang pas end-year holiday…et cetera…et
cetera…
Percayakah, bahwa ada sebagian orang yang
diciptakan tidak pernah atau jarang ingat hari ulang tahun, termasuk ulang
tahunnya sendiri? Nah, aku termasuk dalam kelompok itu. Ditambah budaya di
keluargaku yang tidak pernah secara resmi mengategorikan ulang tahun sebagai
hari yang tersendiri. Apalagi merayakannya (tidak islami, kata bokap.. :P).
Menjadi hal yang rutin, setiap tahun ada
saja teman yang mengingatkan, bahwa aku bertambah (atau berkurang?) umurnya. Pernah
suatu ketika, pas ultahku bertepatan dengan Idul Adha, aku datang ke acara
gebyar TPA dan ingatan berkabut waktu disalami teman-teman. Hmmm…ternyata aku
lebih ingat sama acara makan sate dengan anak-anak itu…hehehe… Pernah juga pas
SMP, suatu siang jam pelajaran terakhir. Lapar dan capek, aku rasanya sudah pingin pulang saja, sewaktu segumpal kertas menimpa kepalaku. Dari luar
jendela sahabat-sahabatku dari kelas A ( aku sendirian di kelas C, oplosan pas
kelas 3 adalah sistem yang kejam! ) tersenyum lebar sambil melambaikan tangan. Di
kertas itu tertulis “tambah satu umurku…happy birthday…” aku masih belum paham
maksudnya. Besoknya setelah ku konfirmasi, baru aku sadar. Ceritapun berakhir di
warung bakso :P. Dan masih banyak cerita lain…
Jadi, sungguh, dari hati yang terdalam (huwo..huwo..)
terima kasih ya atas segala perhatian dan doa-doanya… Mohon maaf atas segala kelalaian berucap salam di milad teman-teman yang mungkin terlewat…
Sekaligus, karena hari ini adalah 1
Muharram, selamat tahun baru! Semoga di masa mendatang, kita semua bisa menjadi
manusia yang lebih baik…amien.
persis.
aku juga pernah ulang tahun pas idul adha, dan jadi satu2nya ulang tahunku yang dirayain. jenis keluarga kite mirip yak.
wah sama dunks… ![]()