sekedar menuliskan apa-apa yang sulit dikatakan
Bagaimana menilai airmata yang ditangiskan
seorang wanita? Sebuah kelemahan dengan kekuatan tiada tara?
Ataukah bahasa yang bermakna sejuta kata? Aku sendiri, tidak pernah bisa
memahaminya.
Sampai pada hari itu, seorang pasien dibawa
masuk. Airmata mengalir dipipinya. Tanpa kata, tanpa suara. Kami mengangkat
tubuhnya, memindahkan ia dari brankard ke meja operasi. Sebuah prosedur standar
disini adalah meminta pasien menyebutkan nama dan tindakan yang
akan dilakukan, untuk mencegah kekeliruan prosedur. Dengan suara serak ia
menjawab sewaktu ditanya namanya. Tetapi hanya gelengan dan anggukan sewaktu
kami konfirmasi tindakan yang akan kami kerjakan. Airmatanya membanjir deras.
Aku sungguh tidak
mengerti. Siapapun yang dibawa masuk kesini tidaklah dengan suasana hati ceria
ataupun berbunga-bunga. Tetapi biasanya airmata telah kering diluar sana, di poliklinik atau
diantara keluarga. Lalu biasanya hanya tampak wajah sedih dan sorot mata yang
menyuarakan penerimaan dan harapan untuk bisa menyambung sisa hidup yang ada.
Tetapi air mata….? Sederas ini…sepedih
ini….? Disini…?
Perawat memberinya tissue. Dokter anestesi
memintanya berhitung sambil mengalirkan inhalan ke depan wajahnya. Aku akan
memasang lead EKG. Selimut yang sejak tadi menutup tubuhnya disingkap oleh
perawat. Aku terkesima. Sekarang aku memahaminya.
Sebelah buah dadanya tiada.
Kutatap wajahnya kini terhalangi berbagai selang, iapun sekarang sudah menjadi lebih tenang. Anestesi menunjukkan kekuatannya. Kulirik data di monitor.
Apakah kau percaya, bahwa kata-kata
terkadang justru lebih kentara ketika tidak disuarakan? Terlahir 58 tahun yang lalu di sebuah negara yang wanitanya bisa hidup sampai
usia 100 tahun, ia layak untuk meneteskan airmata sedalamnya. Ketika dokter
memotong bagian tubuhnya itu lima tahun yang lalu, ia juga mengambil sebagian besar keutuhan dirinya
sebagai wanita. Betapa ironisnya, tim kami, empat
orang di ruangan ini, semuanya wanita. Maafkan kami yang tidak mampu memberimu pilihan, Bu.Sekejap rasa tidak berdaya yang kosong
melintasi benakku.
Ahli anestesi memanggil-manggil namanya.
“wakarimasuka?”
“wakarimasuka?”
“Me o agete kudasai”
Kugenggam tangannya, kurasakan gerakan
menyambut genggamanku, tapi matanya tetap terpejam.
“Mo owarimashita yo…”
Mata itu tetap terpejam. Dadanya yang kini
rata terguncang-guncang. Airmata mengalir deras di pipinya. Tak ada isakan, tak
ada tangisan. Bahasa kepedihan yang ketika aku kira memahaminya, sesungguhnya aku tidak tahu apa-apa.
Disini aku berada. Kulepas jari-jemarinya. Aku
tidak layak untuk menjadi ada ataupun memberikan mental support untuknya. Aku bukanlah siapa-siapa, aku adalah bagian dari
kepedihannya. Kali ini tidak satupun dari tim kami yang memberinya tissue.
Kutatap wajahnya saat mendorong bednya ke recovery
room. Dalam lorong-lorong instalasi bedah pertanyaan itu memantul berulang. Padaku,
pada dinding stainless steel itu, pada pintu-pintu kaca, pada lemari depo obat,
pada kebisuan selepas jam kerja. Sebuah pertanyaan yang sulit dinyatakan.
Apalah yang patut kubanggakan?
Apalah yang layak kukeluhkan?
Apalah daya yang kupunya?
Apalah tahu yang kupunya?
Kutatap bayangku dalam cermin wastafel kamar
ganti. Hanya satu hal yang kumengerti: masih banyak yang tidak aku mengerti.
Tokyo, natsu 2007.
( Untuk mbak Desy Sugandha. Segenap belasungkawa
untuk keluarganya )
kadang mesti dengan kesaksian kita baru sadar kita itu bukanlah apapa..
Adi, tadinya sih pingin nyimpen kisah ini in my memory only… tapi… dunno…
air mata berbeda dengan mata air, boleh lah bila air mata itu di basuh dengan mata air itu, walaupun bukan apa-apa hanya sekedar mengubah makna, dan insya Allah Helfi mampu menjadi bagian itu… pe haba fi…
mbak helfi,
betapa wanita itu adalah pejuang…
seperti kita, dengan perjuangan itu…
aku rindu dengan cerita-serita perjuangan kita…
kapan kita bisa jumpa lagi ya, mbak…
untuk Pak Mughni,
Pak saya ingin main tebak-tebakan lagi dengan Pak Mughni. Mudah-mudahan akan ada kesempatan itu, belajar dari guru yang baik, mengajari dengan cara yang berbeda. Tapinya…tebakan Pak Mughni suka maksa deh…
Terima kasih atas doanya. Sukses selalu ya Pak!
Ika, my dear…iya, wanita adalah istimewa…beberapa sisi keistimewaan itu kadang hanya bisa ditangkap oleh kita sesama wanita…kapan ya bisa ketemu Ika…miss u gal :`)