Dec
20
Filed Under (kisah) by tada on 20-12-2007

Kisah ini panjang tapi kutulis juga
akhirnya karena terilhami oleh komen yang ditulis Ati dan Cus… ( he was the
gasoline and she was the flame :P )

 

Suatu hari di suatu waktu.

Sewaktu datang
di rapat bagian, sebagai junior member, tidak terpikir olehku akan mendapat jatah
mengajar. Sewaktu seniorku menyampaikan ada bahan yang harus kuampu whahaha…
rasanya seperti baru dilantik menjadi ‘orang dewasa’. Kuterima dengan takzim flash
disk berisi ppt file bahan ajar yang sebelumnya beliau ampu itu. Keraguan
sempat muncul di benakku, but when I looked into his eyes.. yang kulihat adalah
kepercayaan penuh disitu. Jadi, kutampakkan gaya standarku: everything-is-fine appearance. Waks! 


Tidak untuk dibandingkan dengan para
seniorku ( kalah telak, dude…siapakah saya…plis deh ), mengajar dalam artian
menyampaikan suatu bahan ajar kepada sekelompok publik sebetulnya bukan hal
baru bagiku. Sewaktu mahasiswa sempat merasakan menjadi asisten
sekitar 3 tahun, aku juga menjadi staf pengajar part-time di salah
satu lembaga kursus bahasa inggris. Tetapi tetap saja rasanya seperti
pengalaman pertama.

 

So, dengan keyakinan penuh tentang materi
ajar ( yang sudah dipersiapkan dengan baik tentunya…ehmm…) tetapi
ketidakyakinan apakah aku akan bisa meyakinkan (???), kumasuki ruangan lab yang
masih sepi. Aku punya 30 menit untuk menyetting perkakas mengajar, ‘temuan
terbaik abad ini’ yang konon mempermudah hidup manusia ( tapi selalu membuatku
pusing
:( ). Belum sempat menyampaikan sepatah katapun bapak pengampu ruangan
menyambutku dengan…” Mbak kata Pak ‘senior’ yang mengajar diganti, tapi belum
datang penggantinya nih..  Mbaknya tahu
siapa yang menggantikan?” Sewaktu kusampaikan bahwa aku yang akan
mengajar, Bapak itu tampak ragu-ragu. Beliau mengeluarkan perkakas sambil
menggumam “digantikan asisten tho…”

Ha???

Ah, sudahlah.

Aku masih mengecek slide sewaktu suara
gemuruh campur celetukan terdengar. Kulihat dari pintu ‘gerombolan si berat’
berdatangan. Seseorang dari mereka dengan gaya yang bersahabat menghampiriku.
“Kak, kami dari kelas B yang hari ini jadwal kuliah
pengantar praktikum. Kuliahnya disini ya Kak?”
“Iya Dik” jawabku, masih dalam twilight
state mendengar panggilannya.

Kuliah berlangsung juga, dan setelah
memasuki sesi diskusi beberapa pertanyaan muncul. Pun demikian yang terjadi
saat kuliah kelas A di minggu berikutnya.

“Kak kalau ini….”

“Mbak, bagaimana mekanisme…”

“Mbak…siapa sih namanya… maksud dari ini…”

Hal yang betul-betul mengejutkan tetapi
sekaligus membanggakan. ‘Anak sekarang’ ternyata kritis dan hi-curiousity… two
thumbs up!. Tetapi… kenapa mereka bersepakat memanggiku ‘kak’ atau ‘mbak’?


Tahun ajaran berikutnya tugas mengajarku
ditambah satu topik lagi. Sewaktu membuat slide kutulis nama pembuatnya lengkap dengan
pelengkapnya dan nama bagian. Maksudnya sih untuk shouting out bahwa aku ini
staf pengajar lho whehehe…


Tetapi seperti kata bijak: manusia
merencanakan Tuhan menentukan. Selesai kuliah beberapa mahasiswa mendatangiku “
Kak, ngopi pptnya doong…”Berbagai macam kabel dari berbagai macam gadget
dicolokkan ke laptopku ( eh salah…punya BMOM ding). Sewaktu berjalan ke kantor
seorang mahasiswi menyapaku “Mbak, mbak ini temannya itu ya…”.
Aku nyengir. Baru kusadari bahwa jaman ternyata betul-betul telah berubah
:)


Di ruang CTMP aku berdiskusi ringan dengan
beberapa senior wanita. Tercatat dua generasi mahasiwaku memanggilku dengan
panggilan mesra “kakak” atau “mbak”. Beberapa mulai memanggilku “Bu” di kampus
tetapi kalau ketemu di jalan atau di kosan ya kembali lagi panggilan mesra yang
dipakai. Sejujurnya ini tidak pernah sekalipun menjadi masalah buatku, ( ada
gitu wanita yang protes kalau dibuat awet muda…ehm…) tetapi ini kan semacam fenomena yang boleh dong dijadikan topik obrolan. Para senior wanita ini lalu berbagi cerita bahwa mereka juga mengalami hal serupa, hanya saja di tempat praktek bukan di kelas. Tetapi mereka akhirnya bisa mengatasinya.

“Caranya bagaimana Bu? Saya sudah
memproklamirkan diri lho kalau saya ini ibu guru” Kuceritakan perihal nama yang
kutulis di slide yang kubuat.

“Oh itu kurang jitu, pakai cara yang
mujarab dong…”

Lho, ada tho? Dengan semangat kuminta
dibagi caranya.

“Pakai make-up sewaktu mengajar. Gampang
kok…”

Tuing…tuing… Pakai make-up? Waduh. Dekil
begini saja fans club ku sudah kesulitan menolak member…wekekekek… Becanda
ding.
It’s just so not me. That’s all.

So, my dear and proudable (ex?) students…
please call me as you like: kak, mbak, uni, bu, mam, sister, miss…whateva deh.
Asal jangan panggil: mas, uda, pak, broer… atawa nenek, mak, mbah… hiks…tega
amat :P


Lagipula, katanya eyang Hipokrates, kita
ini kan sodaraan… ;)

 

(Pengalaman bekerja di kampus itu ternyata betul-betul
sebuah pengalaman. Alhamdulillah.)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dec
02
Filed Under (kisah) by tada on 02-12-2007

Sudah berapa kilometer ya panjang doaku? Aku
menghitung-hitung sambil menatap kubah masjid
Kobe yang tampak dari kejauhan. Sepertinya sejak dari rumah tadi segala macam doa sudah aku baca. Dari doa yang baik-baik seperti doa akan makan (??) sampai doa jelek yaitu berharap  bantuan-Nya supaya hari ini tidak ada murid yang datang… :P

Sewaktu kudapati sister Maryam sedang duduk
di ruang sholat aku seperti ingin melonjak kegirangan…akhirnya..doaku
terjawab!Yess…! Tapi ternyata alasanku untuk ge-er kurang cukup. Sister
memelukku sambil berbisik: “ gomenne..kyo ha yoji ga aru kara…”

Semenit kemudian aku sudah berdiri di depan
kelas. Kupandangi satu-satu wajah murid-murid yang hari ini kompakan datang
telat setengah jam itu. Lho…kok ada wajah-wajah senior kelas advanced? Jadi
tadi pagi sister Iman memberiku buku tata bahasa arab itu maksudnya untuk
mereka? Whaaa… aku belajar bahasa arab itu sudah hampir 15 tahun yang
lalu..*#$%’??!!!***+ God knows what will happen to this class..hiks… And wait a
minute…tidak ada satu anakpun di kelas ini yang berbahasa inggris? Nah…ini
berarti doaku harus kupanjangkan lagi…

Pertama-tama aku masih berlagak cool. Membagikan
kertas huruf hijaiyah lalu meminta murid-murid kelas pemula mengerjakan
assignment mereka. Sengaja kubagikan empat kertas sekalian, biar selesainya
lama hehehehe… Tiba-tiba…

“sensei, kore kowarete iru ne..bla-bla-bla…”
Aku menghampiri automatic sharpener di pojok kelas. Kuutak-atik (berlagak
ngerti padahal…bisa tambah rusak nih barang di tanganku :P ) kubongkar,
kubersihkan sampahnya lalu kupasang dan…tidak berhasil. Aku pasang cengiran
yang termanis di wajahku. Mereka mengusulkan mencari cadangan di ruang guru.
Aku yakin 100% tidak ada, tapi kukerjakan juga (trik mengulur waktu ;) ). Akhirnya
masalah selesai sewaktu seorang murid kelas advanced menyodorkan rautan pensil
manual miliknya.

Papan tulis kubagi dua.
"OK, sisi ini kelas atas dan sisi sebelah  sana kelas bawah ya!" jelasku
dengan bahasa jepang yang sok yakin. Seorang murid dari Malaysia yang baru saja datang langsung nyeletuk: "maksud sensei gimana sih? Kelas up apa low sensei?" Aku terbengong-bengong menyadari bahwa selama ini kelas “upper” itu
memakai ruang kelas di lantai bawah. Nahloh…aku malah bikin kacau…

Bagaimana cara menjelaskannya? Ah, sudahlah
aku tulis saja bahan pelajaran mereka. “Jaa, minna.. ‘fi’ to ‘ala’ mo
benkyoushimashitayo..” Kutulis di papan: fi almadrasah. Kubuka buku untuk
mencari contoh kalimat. Tuing…tidak ada. Yang ada malah kalimat memakai kata
kerja dengan susunan yang aku belum pernah baca. Somebody please tell me before
dong kalau bahasa arabnya Mesir itu beda sama Saudi…hiks! Anak Malaysia mengacungkan tangannya “my friend sensei, my friend is at the school” Waaa…apa
ya bahasa arabnya friend? Kuganti dengan kalimat ‘fi al bait’ mereka langsung
protes..”kazoku no kotoba mada benkyoshinai yo…”. Baru aku mau menulis kalimat
baru anak Malaysia tadi nyeletuk lagi: sensei, bahasa arabnya sofa apa? Tuing…please deh Malaysia.. wkwkwkwk.. :P

Entah siapa yang memulai tiba-tiba berbagai
usulan tentang kegiatan hari itu bermunculan. Aku permisi ke ruang guru
sebentar lalu kembali membawa dua buah buku cerita. Kupandangi wajah-wajah
malaikat itu.

“Listen…” suaraku menggantung. “Gomen nasai
ne…nihongo ha amari jouzu ni dekimasen…yoroshiku…”

Mata mereka berkilat-kilat jenaka..”Sore ha
shiteruyooo..” Kompak bersahut-sahutan. Aku terkaget-kaget. Lho? Mereka tahu
kalau gurunya ini tidak bisa ngomong jepang? Jadi apa maksudnya selama ini
mereka suka deket-deket lalu curhat segala macam, dari tentang gigi tanggal,
plaster hansaplast loreng-loreng zebra, ultah yang hampir datang,  setip baru, makan sushi untuk bangohan, supermario
bros, de-el-el…de-el-el…

Pelajaran hari ini ditutup dengan membaca
buku cerita bergiliran. Untung sister Maryam berbaik hati menterjemahkan serial
“Quran for the Little Hearts” ini.

Seorang murid mengajakku bermain lompat
tali sewaktu menunggu sholat dhuhur berjamaah. Seorang kakak mengajariku
memakai main make up-make up an dari perkakas yang dia buat dengan kertas tissue, adiknya
mengajariku main jual-jualan dengan uang kertas bertuliskan nol terbanyak yang
pernah kulihat (ada enam puluh angka nol dibelakang angka satu!).

Aku merasa ada sesuatu yang lapang dan ringan dalam diriku . Sewaktu
berjalan pulang, di depan hotel Honjin ada suara-suara memanggilku “sensei…sensei…popumi..”
Tiga orang gadis kecil cantik blasteran jepang-pakistan berlari-lari dalam barisan
menyalipku. “Popumi sensei…popumi sensei..” mereka menyeberang masuk ke Toko Kobe
Halal Food. Aku mengikuti mereka, membeli 2 kg daging ayam halal sambil mmeperhatikan
mereka membeli pop mie rasa tomat dan sibuk meracik sendiri dengan air panas
dari waterpot.

Sewaktu aku beranjak keluar salah seorang
dari mereka memanggilku: “kayoubi sensei, asatte, yomiuri terebi,wasurenaide!” Toko
ayahnya ini akan masuk dalam liputan TV swasta.

Beberapa jam kemudian, di rumah kudapati
sister Iman meninggalkan pesan dalam hpku, meminta maaf karena aku harus
mengajar sendirian hari ini.

Aku tersenyum. Senyum yang rasanya tidak akan pernah habis. Sungguh tidak ada yang perlu
dimaafkan. Aku melakukannya dengan senang hati. And take a look at me now…I
wasn’t teaching anything today…I was taught, by sweet little angels…

How amazing children are… Loving them is
definetely something you need no reason to do…

 

Kobe, 2 Des