Nov
27
Filed Under (gesah) by tada on 27-11-2007

Ajib tenan…

Bertemu beberapa orang dari kampung halaman dalam waktu kurang dari sebulan. Baik online maupun langsung. Bebas merdeka ngomong berbagai topik memakai dialek kampung yang sebetulnya sudah bertahun-tahun kami tinggalkan, atau terkontaminasi dialek daerah tempat kami melanjutkan fase pertumbuhan. Bukannya bermaksud primordial chauvinist, tapi aktivitas sebulan ini seperti rombongan layar tancap yang memutar kembali kenangan akan kampung halaman.

Ada teman yang bertanya: Pekalongan itu dimana sih? Whahahaha…di jaman wikipedia dan google earth semacam sekarang, pertanyaan itu mendingan tidak usah dijawab saja hehehe… Banyak yang bisa diceritakan tentang kota yang letaknya persis di tengah-tengah jalur jalan Daendels Jakarta-Surabaya ini. Bagiku sendiri, yang selalu berkesan dari kampungku ini adalah:

1. Makanannya! Sebagai penggemar kuliner sejati (eufimisme dari doyan makan kqkqkq) makanan Pekalongan adalah unik dan beda, tidak bisa ditemukan di tempat lain di Indonesia (apalagi Malaysia..upsss). Megono, tauto, pindang tetel, dawet podo, poci-poci, oreg-oreg, gulai kacang ijo, dll…dll… Dari bagian pesisir sebelah utara sampai perbukitan di sebelah kidulan (selatan) ada makanan yang rasanya bener-bener layak disebut masakan. Jangan-jangan ini berhubungan dengan status kampungku yang di buku teks interna disebut sebagai wilayah dengan DM tipe 2 tertinggi se-Indonesia yah..? Au ah gelap.

2. Orang-orangnya. Secara keluargaku tinggal di salah satu wilayahnya, bab ini tidak perlu dijelaskan. Tapi yang khas menurutku adalah rasa kekeluargaan dan budaya egaliter yang sangat kental, khas masyarakat pesisir utara. Lelaki ataupun perempuan, tua ataupun muda, miskin ataupun kaya, punya kesempatan untuk eksis sebagai dirinya. Guru IPSku jaman SMA dulu sampai ingin menulis karya ilmiah tentang budaya memanggil teman dekat memakai p*****n yang dijumpai disini. Teman kuliahku berkali-kali mengklaim bahwa di kampungku orang-orangnya pasti saling kenal satu sama lain, secara dia mendapati kalau aku bertemu orang dari kampungku ya langsung nyambung saja. No comment deh.

3. Mataharinya! Maksudku matahari beneran, bukan supermarket matahari yang ada di dekat alun-alun depan masjid agung itu. Sebagai hasil kebiasaan Bapakku yang rajin mengajak melihat matahari terbit pas kecil dulu (sebagai upaya supaya aku tidak tidur lagi setelah subuhan kqkqkq..) aku jadi tahu bahwa kampungku punya pemandangan matahari terbit terindah di seluruh dunia (duniaku, tentu saja).

Dari pantai Slamaran kita bisa melihat matahari terbit lengkap dari fajar yang berwarna oranye kental di seluruh penjuru langit, pelan-pelan luntur lalu meninggalkan matahari bulat kemerahan menggantung di langit biru-putih terang.

Kalau melihat matahari bulat pas sunset sih biasa yah. Tapi pas sunrise itu lho…

4. Aksesnya. Secara letaknya tepat di pesisir utara di jalur yang konon tersibuk di Indonesia, kalau hendak bepergian kemana-mana kapan saja, mudah sekali. Semua kereta api jalur Surabaya-Jakarta transit disini. Segala bus malam, pagi maupun siang kalaupun tidak berhenti ya lewat dan mau dicegat (…dan Ibuku sering ngomel kebiasanku pulang kampung di malam hari dengan alasan efisiensi waktu, perjalanan=tidur hihihihi). Kecuali naik kapal…aku belum pernah coba, sepertinya sih belum ada, kecuali kapal ikan :P. Jadi kalau di kotaku dibangun airport wah…asyik juga kayaknya whehehehe…

5. Bahasanya. Nah! Aku sering ditanya: Fi, bahasa Pekalongan itu ngapak-ngapak ya? Hehehehe…maaf mengecewakan, tapinya jawabannya adalah bukan. Somehow, aku dapati segala jawabanku sepertinya tidak pernah memuaskan. Ya harap maklum, aku kan bukan ahli linguistik. Yang jelas bahasa kampungku itu khas, dengan vocabulary campuran bahasa belanda, melayu, arab, mungkin cina juga dan jawa pesisir. Konon sedang disusun kamusnya, jadi kalau mau tahu, nanti pas kamusnya sudah terbit, pada beli ya! ( bantuin promosi ah…).

6. Ikannya! Lho…ini sebetulnya nyambung nomor (1). Bener lho, ikan Pekalongan itu enak dan enak dan enak. Mungkin karena ikan yang dijual di pasaran ataupun diolah relatif masih segar-segar. Yang jelas banyak pilihan berbagai hasil laut dan…ini ni yang sangat penting: harganya murah! Pokoknya bikin surprise deh…

7.8.9….masih banyak lagi deh..

Duuhh..aku jadi kangen kampung, pingin pulang…hiks-hiks huaaaa….

Nov
19
Filed Under (gesah) by tada on 19-11-2007

It was a simple plop. But why, as others call it jungle, in my mind it is always just a big comfort village. Both a heartthrob of my cognitive chi and a permitted escape. What a weird to feel like being dragged out when I was supposed to leave.

It was another plop. Another stroll over familliar atmosphere. I was busy telling myself to stop feeling at home. It has never been painful and it will not. This is a decision, something you are aware of. Yet, there I was. Standing in front of my wonderland and laughing very hard for a cowardice.

It was a different plop. It was like a kick, so I was startled. Old beliefs that I almost forgot. Reminded me of a pair of old hands working on the operating table. Age does not come with wisdom, sometimes it comes alone.

There I was, so blessed with a fruitful connection. I was exposed and I absorbed. I observed and I learned. I was observed and I was taught.

Inside myself, I am always at the same age…why deny?

Being special is simply a human right.