sekedar menuliskan apa-apa yang sulit dikatakan
aku berdiri dalam kerumunan dan bayangmu melintas. entah apa yang membawaku mengingat kembali segala bait dan kisah yang kita tulis bersama-sama. apakah peluh yang tak mengalir. penat menyergap tungkai memenjara. ataukah pekerjaan yang melontarkan dari sekedar meletakkan tubuh di kursi sebentar saja.
apakah yang sedang kualami hari ini? segenap syukur bercampur percaya bahwa semua akan baik-baik saja. dihadapanku ini sesosok tubuh dalam usia nyaris sama denganmu. jatah hidupnya yang kami coba perpanjang lewat misi selama 8 jam. kusangka hanya arogansi kami dan pisau kami dan optimisme yang naif. sembilan bulan yang kami tawarkan seperti bermain tuhan-tuhanan. rambut putih menyeruak keluar dari tudung hijaunya. kerut kulit terlihat jelas disela seliweran pipa dan sungkup oksigen. aku menatapnya sekilas dan kuingat kulitmu yang cemerlang walaupun usia melukisi beberapa ruas disana-sini.
apa yang sedang kulakukan disini? pegal memakuku ke lantai berlapis nylon biru. hari ini sang guru mengajari satu demi satu ilmu bercampur pengalaman. aku menyimak tangan seniman menarikan tarian jemarinya. aku nyaris yakin kukunya punya retina.dan kutekuni setiap kata menuturkan hal yang menurutku hampir seperti ramalan yang sempurna.
apa yang sesungguhnya terjadi denganku? sebuah hari yang penuh rupa. dengan segala kegagalan berpadu pencapaian. kemarahan dilukisi maaf dan pemakluman. setiap hari penuh nuansa. bukankah hidup memang harus banyak warna. karena itulah kita sebut hidup. kutoleh ke belakang jalan yang membawaku disini sekarang. betapa berliku jalurnya. betapa membingungkan petanya. kulihat didepanku, sesosok tubuh segunung perkakas. lampu diatas kepala sudah dua kali menghantam ubun-ubunku. lebih banyak lagi jalur terbentang. jadi kemana gerangan perjalanan ini akan membawaku?
kepada siapa aku menanyakan pertanyaan yang menjengkelkan ini? bahkan akupun tak punya daya dan nyaris kesal setiap ia kutanyakan lagi. membuatku terpaksa berurusan dengan definisi. karena engkaulah berlian yang punya banyak sisi. karenanya engkau berkilau cemerlang. akupun terjaga. cukuplah ia menjadi rahasia kita berdua.
kelopak mata keriput itu terbuka. apa spacer-nya jadi dipasang? adalah pertanyaan pertamanya. kami memotong tumormu bu. dan terbata-bata ucapan terima kasih penuh airmata. ia mestinya tidak menyadari ketika matanya terpejam lagi dan terkulai kepalanya ke samping. kata-katanya lebih mujarab dari morfin dalam botol epiduralnya.
jadi begitulah setiap orang menulis sendiri kisah hidupnya.
apa yang kupelajari hari ini? aku berdiri berselubung baju hijau lengan panjang pinjaman anestesi. aku letih. aku ingin pulang. ke suatu tempat yang tidak sepenuhnya kumengerti. tapi ketika tadi berada disana. sebentar saja, aku tahu memang aku sudah seharusnya pergi.
dan engkau. segenap cintamu dan dukungmu dan ayommu. dan hangatmu dan kata-katamu yang tak terucap. dan bimbingmu dan sentilmu. dan sedihmu dan lelahmu dan peluhmu. ternyata kuingat dengan baik setiap bait. setiap lukisan. setiap gambar. setiap rasa. setiap rupa.
engkau memang tidak menemani. tapi engkau membuatku berani berjalan sendiri.
Gaya nulisnya yg meloncatkan tema antar kalimat ke kalimat, serasa membaca tulisannya Pramudya.. dan tentu juga bayukaze..
ini baru blog nya helfi…2 jempol fii..
jadi siapakah pengayommu itu Fi? Helfi ternyata dikau pandai sekali merangkai kata….bagus tulisan mu Fi:D