Apr
22
Filed Under (gesah) by tada on 22-04-2007

berbeda, tetapi terasa sama.

ruangan terbagi, dan kamipun berpisah di satu titik. aku ke kanan, dan ia ke kiri. seorang koas menunjukkan cara men-setting kunci loker. disini, aku menyimpan jas putihku.

scrub ku berwarna putih, scrub untuk dokter. cap, masker, kaus kaki, suripa karet putih, selubung biru muda. aku harus mencuci tanganku dulu.

pintu-pintu bergeser terbuka oleh sensor kaki. berkelok-kelok jalan, ruang 103. ia melambaikan tangan. wajahnya tertutup masker.

biru langit menyambutku.

ruangan megah, terasa hangat. pria setengah baya terbaring di tengah ruangan. hilir mudik tim yang terstruktur. suara pulsasi dari monitor. ada cctv di sudut ruangan. segunung perkakas bernuansa tosca. warmer, kateter, double baloon. di sudut sana adriamycin harus disiapkan.

kutatap lampu cakram diatas kepalaku. kenapa baru sekarang kusadari, di langit Kobe ternyata ada bintang?

diskusi tanpa henti. knowledge is in the air. pertama, tapi segalanya terasa sangat familiar. waktu berjalan sangat cepat. dengan haru kubuang perangkatku ke tong sampah di sudut ruangan. perasaan sentimentil ingin membawanya pulang, juga scrub yang nyaman ini. seorang teman menyapa hangat, kita berjanji untuk minum kopi. aku berlari melintasi selasar. pekerjaan lain menunggu. another part of today akan segera dimulai. langit mulai gelap. di atas mejaku, setumpuk jurnal baru.

hari ini, 19 April, aku baru saja pulang.

"maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?" astagfirullah.wa atuubu ilaik.

Apr
16
Filed Under (belajar) by tada on 16-04-2007

Kami sedang membicarakan tema computer-assited surgery di hari terakhir scientific meeting ini. Session terakhir yang menjadi ajang pertarungan antara dua pengembang software surgery simulation: Jepang diwakili oleh Hitachi dan Jerman diwakili oleh Celle Hospital (ternyata Celle itu nama kota di Jerman…shiranakatta! ).

Wakil dari kedua bangsa yang mengklaim sebagai bangsa paling efisien sedunia, setidaknya itulah yang dikatakan prof. Oldhafer saat dinner semalam, saling mengkritik dan melengkapi presentasi masing-masing pihak. Terkadang diskusi menjadi seperti obrolan antar ahli IT dalam dunianya sendiri. Mereka ini menyandang gelar dokter, bekerja sebagai klinikus dan berhasil membuat program yang sudah diakui dan dipakai di penjuru dunia…? Such an efficient brain-usage…

Berbagai tanggapan muncul dari audience. Meeting ini menjadi kesempatan untuk saling berbagi pengalaman dalam menangani kasus-kasus high-risk liver surgery. Hepar adalah organ yang ukurannya besar dan strukturnya homogen, namun lokasinya yang eksentrik dan sifat dari liver tumor membuat operasi menjadi kompleks (..but surely there’s nothing simple whenever dealing with somebody’s life…). Software simulasi ini mengisolir organ hepar dan membuat prosedur operasi menjadi ringkas. Uji klinis yang dilakukan di center-center utama di kedua negara menunjukkan presisi yang mendekati 100%. Kemarin saat dokter dari Hyogo Ion Beam Center mempresentasikan particle beam therapy, prof Ko secara bergurau memprediksi bahwa di masa depan dokter bedah tidak perlu lagi bekerja berlumuran darah. Computer-assisted surgery dan robotic surgery sepertinya makin menggeser paradigma, tatkala tubuh manusia pun bisa diprediksi dan dikalkulasi secara mapan, konsep “medicine is an art” jangan-jangan juga harus direvisi.

Saat itulah prof Oldhafer maju membawakan presentasi yang terkesan sangat tidak nyambung. Kami diajak kepada sebuah konsep bahwa bahasa awal yang dikenal manusia adalah gambar. Selanjutnya diskusi digeser ke arah arsitektur hepar. Sebagai sebuah organ dengan vaskularisasi yang sangat kaya, hepar memiliki sistem distribusi yang mendatangkan momok saat hepatektomi: massive bleeding beserta masalah perfusi, iskemi, dll. Kemudian kami diajak berpikir tentang efisiensi. Bila kita ingin mendistribusikan sesuatu, tentu kita pilih cara yang paling efisien. Saat itulah prof menunjuk kepada judul presentasinya: the mathematic of nature.

Terus terang awalnya aku pikir judul tersebut salah ketik. Tetapi ternyata memang itulah yang dimaksud. Prof membawakan suatu program yang ditemukan para matematikawan untuk bisa membuat suatu jaringan distribusi yang efisien dalam area apapun dari pintu manapun. Gambaran sederhana ditunjukkan sebagai contoh, bagaimana membangun jalur distribusi yang paling efisien dalam area trapesium, lingkaran, polygonal, dari beberapa pintu yang berbeda. Program ini ternyata sudah dipakai oleh pihak militer sejak bertahun-tahun yang lalu (bagaimanapun, militer sepertinya memang organisasi yang paling efisien). Kemudian prof memasukkan bidang berbentuk persis seperti hepar dalam program. Pintu masuk yang dipilih adalah lokasi masuknya arteri hepatica dan vena porta. Perlahan garis-garis distribusi terbentuk, pecah, mencabang untuk menuju efisiensi tertinggi sesuai hitungan komputer. Saat itulah kami semua tercengang (or at least, I did ).

Jalur yang terbentuk adalah jalur yang sama seperti vaskulari hepar yang didapat lewat penyuntikan agen korosif kedalam preparat kadaver.

“Sebagai bagian dari alam semesta, tubuh kita tidak bisa lepas dari hukum matematika” prof menggarisbawahi. “… and it is indeed a blessing since we can create technology based on this to work more efficiently, ” beliau menambahkan.

Subhanallah. Ada hukum fisika refleksi di bola mata, ada mekanika Newton dalam sistem muskuloskeletal, ada reaksi redoks dalam sistem imun, tubuh manusia seperti alam semesta mini.

Selesai meeting aku ke lab, memberi makan sel-sel kanker yang kupelihara. Dibawah mikroskop bahkan kloning yang paling resisten pun tampak rapuh seperti bayi, tetapi inilah salah satu misteri kehidupan di tingkat selular yang belum terpecahkan. Mengapa sel kanker immortal dan infiltratif? Mengapa berbeda dari kelompoknya? Darimana asalnya? Hukum alam semesta apakah yang sebetulnya sedang dicari oleh riset kanker?

Begitu sedikitnya ilmu manusia. Maha Besar Allah dengan segala ciptaan-Nya.

Angin musim semi bertiup dingin saat aku berjalan pulang ke stasiun JR Kobe, kelopak sakura merah jambu berguguran jatuh ke jilbabku.