sekedar menuliskan apa-apa yang sulit dikatakan
Siapakah orang yang paling dekat denganmu?
Dekat selalu berkisar seputar jarak. Dalam sistem metrik diukur dengan satuan meter. Orang Islam diwajibkan berbuat baik kepada tetangganya, dan yang paling berhak adalah yang pintu rumahnya paling dekat.
Selain jarak, ada konsep lain yang sering dipakai, yaitu kesan. Mungkin hampir mirip dengan ilusi optik. Seseorang yang meninggalkan kesan ( impresi ) dalam hati kita akan terasa lebih dekat. Karena dekat, mudah diraih, mudah dikenang.
Minggu ini adalah minggu perpisahan.
Salah seorang teman di lab akan pindah ke rumah sakit lain. Sewaktu mendengar berita tersebut aku merasa kehilangan sesuatu. Aku heran dengan perasaanku ini. Kami bertemu rata-rata 2 jam sehari, itupun karena pekerjaan. Dia bukan orang yang dekat. Meja kami saja menghadap ke sisi berlawanan, jadi saat bekerja kami saling bertemu punggung, bukan muka. Apa karena dia satu-satunya the talking creature diantara yang lain? Atau karena dia orang yang selalu punya inisiatif melakukan sesuatu untuk mencairkan ketegangan kerja? Atau karena dia orang yang langsung mewanti-wanti untuk dihubungi sewaktu mendengar kisah lab dimasuki intruder pas aku lagi sendirian kerja di hari libur? Atau karena dia orang yang selalu dengan hangat menyapa setiap pagi? Atau karena dia satu-satunya orang yang bisa diajak bersama menertawakan kegagalan kerjaku? Atau karena dia orang yang tidak pernah jaim dan selalu apa adanya? Atau karena dia orang yang mau dengan telaten mengajariku padahal dia sendiri sedang dalam masalah besar? Atau karena dia orang yang selalu berbagi apapun dengan kami para juniornya?( dia ini hampir tiap hari mendapat hadiah makanan enak-enak entah dari siapa :P). Atau godaannya tentang hobiku berpuasa? Atau pertanyaan lugunya tentang jilbab yang kupakai?
Aku tidak tahu pasti. Jangan-jangan ini hanya gejala umum: kita merasa dekat dengan seseorang saat kita akan berpisah dengannya.
Kemarin lusa kami duduk di study room, bukannya berdiskusi tentang pekerjaan tapi malah mengobrol tidak tahu juntrungnya. Kami berdua rasa-rasanya punya persamaan, sama-sama blunted kalau harus bicara perasaaan. I found out how he wanted very much to stay here. It was his condition that we both realize, would be much better if he moved. What can we do when something is painful? Laugh at it. Jadi kami berdua mentertawakan kepindahan ini.
Resep ini, somehow, sulit dipakai sewaktu acara perpisahan hari minggu yang lalu. Kali ini perpisahan dengan teman Indonesia. Seorang diantaranya adalah “pasangan hidupku”. Kami biasa menghabiskan waktu bersama setiap hari minggu. Jalan-jalan keliling Sannomiya. Belanja. Ngebazar. Nyasar bareng. Woman talk. Berbagi tips tempat belanja murah. Memasak. Yang kami lakukan sih jelas tidak bisa dikatakan berkualitas. Meskipun begitu kegiatan ini membuat mental lebih siap menghadapi hari senin. Toh kita semua butuh satu hari yang tidak berkualitas setelah enam hari yang sangat produktif, betul tidak?
Yang ini aku bisa dengan jelas menggambarkan rasa kehilanganku. Aku tidak bisa tidak merasa dekat dengannya. Tidak hanya dalam hitungan jarak ( karena kami tinggal di dormy yang sama ). Saat itu bulan puasa, tepat tengah malam, aku baru saja tiba di tanah ini. Tempat yang membuatku terkena “sudden aphasia syndrome”, yang adat istiadatnya membuatku serasa pindah ke luar angkasa. Termenung sendirian dalam kamar menyadari isi koper yang kubawa ternyata tidak berarti apa-apa bahkan untuk bertahan hidup satu malam saja. Pintuku diketuk. Futon, selimut, minuman hangat, bahkan televisi tiba-tiba datang. Semuanya mungkin hal yang sangat biasa dalam hidup sehari-hari, yang bisa kita dapatkan dengan mudah. Tetapi barangkali inilah maksud perkataan orang tua dulu: budi tidak akan pernah bisa terbalas. Time utility, ada ketika dibutuhkan. Itulah yang tidak akan pernah bisa digantikan.
Betapa waktu adalah variabel yang teramat sangat bermakna dalam desain apapun.
Jadi, kalau ingin tahu bagaimana nilai dua jam per hari atau sehari per minggu selama 5 bulan? Aku bisa menggambarkannya.
Seorang teman pernah bilang bahwa begitu banyak orang datang dan pergi dalam hidup kita namun hanya sebagian saja, yang sempat meninggalkan jejak. Tetapi mestinya tidak sesederhana itu. Hercule Poirot berkata, ada atau tidak adanya jejak tergantung dari cara menganalisanya. Sesuatu yang sangat bermakna terkadang malah justru tidak terlihat.
At the end, the question is: jejak macam apa ya, yang sudah dan akan aku tinggalkan di kehidupan orang-orang yang kutemui dalam hidupku …?