Nov
28
Filed Under (gesah) by tada on 28-11-2008

There were three things residing in my mind as I went through this year’s summer rollercoaster. So haunted that I think of writing them. Somehow it was not as easy as I thought. Several matters here and there absorbed me, crowded enough to keep me away from sitting in front of my computer and pouring out the idea.

 

Summer has passed, so has autumn. What an outdated topics that winter is coming now. But if I read the title up there, I guess yeah it’s just me losing the chance.

 

I remember that one school day, a friend told me that she couldn’t join the trip to another town to attend a classmate’s wedding. I was dazed that her excuse was not to miss the last day of annual sale of a very famous undergarment brand. It was very logic, though; as she explained on why she wouldn’t push herself on attending a wedding of someone she barely speak to. A shopping freak as she confessed, she had something much more important to do. “Don’t lose the chance” was her quote.

 

I am not a fashion freak, nor a brand loyalist. Somehow, even if I was, I think I wouldn’t be that bold to take her way. I am both amazed and thankful on that we make it as good friends despite our totally opposite way of thinking.

 

That night, I was rushing to Sannomiya. When I got to the bus meeting point, two friends were already there. One was getting something from me and the other one kindly handed me a pack of Kobe pudding. A trivial but highly important thing in Japanese culture: omiyage a.k.a souvenir. I was heading to Tokyo straight from the lab for an internship program. Panda eyes on my face due to a week lack of sleep, my mind was already somewhere else in Kanagawa. It’s really a blessing to have friends around collecting the pieces when my hands were too short.

 

I looked out the window as the bus was heading to Osaka. The moon was high, round and yellow. It was not as marvelous as the night before: the harvest moon that I saw while I was riding home at 1 am. Ramadhan had just half month passed. Yet I had successfully broken my promise to celebrate the holy month properly. The beginning was so perfect as if the old days were coming back to me. But then, look at me. Sitting on the bus, doing my isya prayer, then my tarawih., my heart started weeping. What on earth was I doing? Was this journey worth to do? Did I pay the right price to let go a great chance?

 

While I was rolling my luggage to move to another bus, I saw a group of teenagers sitting in front of a convenience store. Beer cans and cigarettes, the chat and laugh were so loud. I couldn’t help not to sigh, screaming silently wishing them to give me something they were in excess of: the time.

 

Then I laughed at myself for being so silly. I missed the chance, nobody’s to envy. I simply lost.

 

 

Oct
02
Filed Under (gesah) by tada on 02-10-2008

It was a quote which took me back to peep into the past. I do not consider myself as the kind who tend to forget earlier times. Somehow, I guess collecting a full versions of earlier time is just not my capacity.

Being entrapped in a series of both orderly and jammed tasks, I sensed this bizzare hint that I was not suffered from any burden at all. Who am I then, so familiar and dissimiliar at the very same time?

So when I stumbled upon this idea of not pushing the balance but taking life as series of chapters, I was taken back to the time when I was so young and so wise to put myself without boundary in asking the questions.

Isn’t it what I basically believe? It’s really difficult, if not a fantasy, to expecting the exact same chapters in a book. Whether it is a dull textbook or a fascinating best-seller novel, there are always some chapters so light you don’t remember reading them, and others so dense you think you might give up, or even be challenged. Of course, there are some in the middle between.

I guess this piece will be another ‘intrapersonal communication’ (Bayukaze, 2008). I call it ‘talking to myself’ instead. Well, my friend, I guess you are right. After all that’s why we write a weblog in the first place, isn’t it? Or let’s say it’s me we are talking about :). Taking a crack at saying what I want to say, when I just can not say, or when I think I’d rather not say..

*foreword of 3 parts*

To be continued

Aug
04
Filed Under (gesah) by tada on 04-08-2008

 

Warning: tulisan ini ditulis dalam past memory flooding mode on, akibat yang tak dapat dihindari dari ‘perbincangan tingkat tinggi’ di forum YM dengan belahan pinang nun jauh disana !

 

Salak, buah kecil nan praktis segenggaman tangan. Bercerita tentangnya membuka ingatan tentang masa kecil, sepeda merah kecil tanpa standar yang cukup dilempar untuk parkir. Betapa sukanya aku akan buah ini! Secara kongenital bukan penggemar jajanan alias snack maka varianku ya itu-itu saja, dari dulu hingga kini (lots of friends out there yang setia mengupdate rekomendasi tentang snack-snack baru, thanks guys!).

Tetapi salak adalah yang menyapu hilang rasa bosan ritual ke kantin sekolah. Rasa gembira sederhana yang sulit dilukiskan saat mengayuh sepeda memperluas wilayah jelajah ke warung dekat kelurahan, mengubah niat membeli singkong goreng kala tukang pisteta dekat es bambang ternyata sedang memajang salak be-es di displaynya.

 

 

Ketika suatu hari seorang teman bercerita tentang Kaji Buah, lalu mengantarku ke rumah yang megah. Kami berdua menunggu di depan krei garasi yang berkilat. Pembantunya terheran-heran sewaktu kami bilang akan beli salak. Saat kami akan pulang dengan lebih heran penuh sangsi karena mbak itu bilang tidak jual, seorang Ibu memanggil kami dan menyodorkan 5 biji salak seharga seratus rupiah. Itu Ibu Kaji. Barangkali kami ini customer retail pertama dan satu-satunya. Harganya lebih murah satu butir dari tukang pisteta tapi aku trauma dengan panasnya plesteran semen di telapak kaki saat menunggu birokrasi jadi tidak pernah kembali (yah, mestinya aku beli satu kontainer kali yak :P).

 

Musim salak berarti sepanjang waktu jari-jariku penuh bekas goresan, tak sempat menyembuh. Bukan pemilih; manis, sepat ataupun pera, aku suka. Biji tidak langsung kubuang. Dengan pisau pames kuukir pola pasley, kusimpan di deswar lalu menghilang entah oknum mana yang rajin membuangnya. Salak yang pera bijinya hitam kelam dan kering, sulit diukir tapi kontras warnanya aku suka.

 

Manisan salak adalah pelengkap ritual membuang diri yang kadang kulakukan dengan salah satu partner in crime (V for vendetta :P I’ll go anonym). Satu ons 2500 rupiah, mahal untuk ukuran uang jajan kami maka patungan adalah jalan keluar. Bermotor berdua dari Kalibanger ke Gajahmada, lalu duduk di kolam gedung DPRD. Makan manisan salak sampai habis lalu pulang dengan kepala lebih ringan (Peringatan Pemerintah P. No. 1: you can never understand teenagers!)

 

Salak adalah suatu hari yang panas, pantai Slamaran. Kami sekelas biologi baru praktikum biota pantai. Aku dan another partner in crime (D for don’t want to tell) duduk di pondok kecil menanti angkot. Serombongan bolokurowo bermotor mendekat dan membawakan seplastik besar salak hasil jarahan kebun di tepi pantai. Ternyata hari itu hari ulang tahunku. Hadiah terindah adalah ketika para penjarah itu mati-matian meyakinkan kehalalan benda syubhat itu :P

 

Tentang lazy sunday di kamar kos, menghabiskan sebesek besar salak pondoh Sleman hadiah dari calon kakak ipar yang kujuteki, simply because he wanted to be my kakak ipar. Bagaimana dia bisa tahu cara melunakkan hatiku ya? Hahahaha…Cerita lucu tentang sebesek lain dari sepasang kakak kelas (D for doubtless dan B for be bold) yang menjengukku saat terbaring kena tifoid (did I say thyphoid? yups!).

 

Atau ketika a dear woman (B is for beauty) menyodorkan dua butir salak bule ke tanganku sewaktu kami berjalan beriringan pulang dari kondangan…( how does she know? a question left unanswered).

Pertama kali tiba disini, menjadi mahasiswa asing pertama dan satu-satunya. Pertanyaan pertama tentang Indonesia dari teman lab ku adalah: do you know salak? Terebi de mitte, hountoni tabetai desu! Ouch.

 

Another side of me juga adalah sawo, manggis, nangka hutan dan nanas. Tetapi hari ini, setelah semalam di lab seorang teman sharing tentang mencari tiket garuda, lalu yang lain berbagi tentang rencana pulang saat lebaran. Berlanjut dengan pertemuan online tak terduga dengan sahabat tercinta (H stands for hikmah). Entah mengapa, aku teringat saja.

 

Something episodic. An acute homesick. Akan berlalu, aku sadar penuh tentang itu. Tapi kali ini, biarkan aku menikmatinya…

 

 

 

Jul
25
Filed Under (belajar) by tada on 25-07-2008

What is the most daring and amazing journey we can make in a lifetime? We can travel to remote places, like adventurers, explorers or cosmonauts; we can look at even more distant places, like astronomers; we can visit the past, like historians, archeologists, evolutionary biologists or geologists; or we can delve deeply into human soul, like artists or psychologists. All these voyages lead either to other places or to other times. However, we can do better.

The most daring trip of all is not the one leading to the most inaccessible place, but the one leading to where there is no place at all. Such journey implies leaving the prison of space and time and venturing beyond it, into a domain where there is no position, no present, no future and no past, where we are free of the restriction imposed by space and time, but also of the mental reassurance that these concepts provide. In this domain, many new discoveries and new adventures await us. Almost nobody has ever been there; humanity’s journey there has so far taken at least 2500 years, and is still not complete.

To venture this domain, we need to be curious about the essence of travel itself. The essence of travel is motion.

(Motion Mountain-Christoph Schiller)

-ouch, sakit!telingaku dijewer :’(-

Jul
16
Filed Under (belajar) by tada on 16-07-2008

Cinta lama yang bersemi kembali. Atau makin bersemi? The flame remains there, anyway. Setelah sebelumnya aku sibuk memburu ‘the Nature guy’ dan kami berbicara tentang Her-2 negative breast cancer. Berpikir praktis sepertinya aliran para scientist Jepang, kalau tidak berbicara alat baru ya pendekatan terapi baru. Secara protokoler barangkali idenya tidak 100% orisinal, tetapi sungguh layak dikagumi. Bagaimanapun Her-2 negative breast cancer patients adalah kelompok yang memang ada. Reseptor temuannya itu mudah-mudahan benar suatu harapan terapi baru yang menjadi nyata.

Ada suatu alasan personal khusus ketertarikanku dengan Herceptin. ( http://inihelfi.multiply.com/reviews ).Jadi lihatlah aku, terkagum-kagum untuk kedua kalinya dalam meeting ini, ketika topik reversal resistance of Her-2 postive breast cancer to trastuzumab dibawakan dalam forum. Kekaguman yang perih. Teringat masygul yang kurasa sewaktu mengumpulkan data ER/PR status 2 tahun yang lalu. Terapi yang harganya bikin kening berkerut seperti rok anak SD, itupun tidak kemudian membuatnya mampu terbeli. Kemewahan yang hanya bisa terjangkau justru oleh para pemegang Askes Gakin (dengar2 kelanjutan ceritanya berubah ya?). Tetapi kan sama juga boong (pinjam istilahnya Dono Warkop) kalo status reseptornya tidak dicek dulu.

Maka lihatlah ia, bicara tentang unresponsiveness. Lebih ‘sama juga boong’ adalah karena bahkan breast cancer yang overexpress Her-2 receptor juga belum tentu berjodoh dengan trastuzumab. Sungguh tidak sopan. Her-3, Met, TGFalpha…betapa banyaknya deretan alphabet yang menjadi nama. Lalu diskusi yang dilingkupi keprihatinan. Bagaimana meyakinkan kolega klinikus agar melakukan biopsy ulang pada kasus relaps pasca adjuvant Herceptin? Dr. Brown bertanya penuh empati. Prof Gray malah meloncat lebih jauh: bagaimana mendesain clinical trial untuk temuan ini.

Kusimak dan kucatat sebaik mungkin. Tetapi sesungguhnya aku punya pertanyaan yang lebih besar, yang begitu besarnya sehingga hanya bisa kutanyakan dalam ruang diskusi batinku.

Ya Allah, jikalau Engkau mengizinkan, apalah yang tidak mungkin terjadi? Para wanita disana itu, mestinya adalah ibu seorang anak, mbak seseorang, atau cucu seorang kakek, sahabat seorang wanita lain, pastinya anak perempuan yang menyejukkan hati seorang bapak. It’s just not gonna be the same anymore without her… Karena adalah janjiMu bahwa semua ada obatnya. Dan kamipun memahami kewajiban ikhtiar dan tawakal. Maka bantulah kami..

Jul
08
Filed Under (gesah) by tada on 08-07-2008

Ternyata ini topik yang tak kunjung berhenti episodenya. Aku ingat waktu itu di bangsal bedah saraf, duduk berhadapan dengan kakak kelas residen bedah. Entah dapat ilham darimana dia tapi kesimpulan pembicaraan kami waktu itu (yang berjalan searah) adalah betapa enaknya menjadi dokter umum wanita, boleh memilih spesialis manapun yang disuka, sementara pria harus berpikir mana yang akan memberikan jaminan hidup lebih baik.

Aku sungguh tidak mengerti maksud pembicaraannya. Sebab aku tidak bisa mengerti orang yang menghabiskan usianya melakukan sesuatu yang tidak disukai, Lalu aku bertemu teman pria, di usia yang hanya selisih 2 tahun dariku, dia sudah sangat tahu apa yang dia cari dalam bekerja. Karier yang gemilang di sebuah bank swasta ditukarnya dengan posisi yang tergolong pemula di bank pemerintah. Keherananku dia jawab dengan lugas: “Gajinya enam kali lipat, bow!” Lah…ini orang yang hampir empat bulan sebelumnya bolak-balik curhat padaku tentang cintanya pada pekerjaan. Ternyata cintanya tak setia. Hahaha..

Sesudahnya jamak sekali kudengar, begitulah pria dalam memilih pekerjaan. Penghasilan adalah benchmark apakah pekerjaan itu bagus atau tidak. Beberapa teman malah mengungkapkan pendapat ini berdasarkan referensi literature teori Mars-Venus. Konon karena pria dari sononya punya naluri sebagai breadwinner . Sementara bagi wanita bekerja hanyalah pilihan saja, sehingga lebih memilih kenyamanan dan kesesuaian dengan hati.

Memang beberapa teman wanita kudapati alasan berpindah kerja semata-mata karena ‘tidak konek’ atau ‘tidak sreg di hati’. Tetapi toh bukan seorang dua orang yang bersedia mengorbankan cita-cita pribadi (menikah, punya anak) karena pekerjaan yang bergaji aduhai mensyaratkan demikian.

Dalam perjalanan kemudian aku mendapati seorang teman pria yang dengan cueknya melepas pekerjaan makmur di suatu negara kaya, hanya alasan klasik: tidak enjoy! Lalu dengan bebas merdeka memilih menjadi freelancer saja. Ada lagi yang melepas pekerjaan bergaji 4 digit USD karena visi perusahaan ternyata berseberangan dengan idealismenya.

Di salah satu acara reuni Wanalana, aku pernah memergoki diskusi dua seniorku. Bagaimana mendefinisikan kesuksesan? Hukum alam menuliskan bahwa reuni sering mendatangkan pertanyaan-pertanyaan semacam ini. Salah satu dari mereka menjawab dengan lugas. Kesuksesan adalah memenuhi ukuran yang dibuat sendiri. Bekerja pada bidang yang diinginkan melakukan pekerjaan yang memang diinginkan, itulah kesuksesan.

Sempat terlibat obrolan dengan salah satu alumni SMA angkatan super jadul. Awalnya dalam rangka meminta tolong untuk teman yang berbisnis mutiara, ia menyebutkan ketidaksukaan pada etos kerja salah satu kelompok suku. “Mereka cuma mau cari uang saja, tidak mau bekerja!” Baru kali itu aku mendapati bahwa bekerja dan mencari uang adalah sesuatu yang berbeda. “Dalam bekerja ada proses learning, mengasah kemampuan diri lewat pembelajaran untuk menjadi lebih baik”, begitulah penjelasan beliau.

Ini membuatku berpikir, ternyata sama sajalah wanita dan pria dalam memandang bekerja. Jadi kata siapa man from Mars woman from Venus? Lebih tepatnya barangkali, both are from Earth. Tidak ada hubungannya dengan jenis kelamin. Setiap orang punya pertimbangan sendiri bagaimana ia memutuskan menjalani pekerjaannya. Terlebih keputusan yang dibuat adakalanya bukan keputusan pribadi, tetapi menyangkut hajat hidup orang banyak.

Bila mengacu pada definisi kakak kelas jadul itu, berarti esensi hidup adalah bekerja, bukan? Karena ada proses learning di dalamnya, proses yang tak kan pernah usai.

(ayo teman, kamu bisaaaaa!….eh, kita lagi ngomongin apa sih???)

Jun
07
Filed Under (gesah) by tada on 07-06-2008

“Guzen ga nai, Helfi-san…”

We were sitting next to each other on the coach. I laid myself lazily, my legs were protruding everywhere. She was putting some medicine on her back; her wet hair sketched a fresh impression on her tiny face. A struggling voice trying to pronounce several English greetings was my ‘sister’ making herself busy with the internet. The TV was left unaccompanied. My dinner laid helplessly on the table. Maybe I’d eat it in a few minutes, said my mind.

How much time of your life that you spend to just stop and think about the blessing that you have? What an unnecessary query, well, I wasn’t about to ask it, tough. I stared on my book blankly, on my ‘highly need to improve’ kanji writings. I heard her sayings on NPO thing, the past, present, cancers and ‘naruhodo’ thing. How abundant things in life that we have no clue at all in the beginning, then at the end we find ourselves mumbling—now I understand—for something that suddenly strikes our mind.

I can not help myself to stop considering life as an extremely big puzzle, consists of endless pieces it takes forever to get the frame. Only to get the frame…

A couple of weeks ago a friend posted a true story of the little things that save lives. The 9/11 survivors (OK we’re not going to spot on the conspiracy thing) were late to work because of trivial things: flat tire, coffee spills, crying baby, natural calls, early phone call… Things usually recognized as annoying turned out to be the darling saviors.

Some names and figures came to mind. The phone talks I had several days before. Fortuitousness and unexpectedness happened in sequence. I saw myself standing in a void. Gosh, I am nothing but a learner. I shut my eyes to catch the zero state.

A head popped up from behind the bookshelf.

“Helfi-san, duu—yuw-wantdo-bee—a…kuuck?” A smile was drawn ear to ear on her face.

“Kuuck-tte nani?”

I smiled back and let the two of them continued practicing. Something was throbbing. Maybe it was a sore. Maybe it was just my part. I didn’t feel like finding out. I didn’t feel like saying anything. My chichimi had gone cold. I reached the fridge to get some tomato ketchup. Bon appetit!

May
19
Filed Under (gesah) by tada on 19-05-2008

Disaat bertemu lagi dengannya itulah, aku tahu telah jatuh cinta. Betapa ia selalu, begitu biasa dan wajar saja. Seperti memang seharusnya ada dan apa adanya. Semakin kucoba mengenali semakin kutahu betapa ia menyembunyikan misteri, keindahan yang membuatku terkagum-kagum berkali-kali.

Aku merasakan kehadirannya, begitu nyata. Dan aku bukanlah satu-satunya. Perannya begitu besar. Sangat terlihat, tetapi ternyata yang terlihat itu sungguh tidak ada apa-apanya dibandingkan apa-apa yang ia lakukan diam-diam. Kecil, tetapi tidak kecil. Tersembunyi, tetapi tidak tersembunyi. Rumit, itu sudah pasti, karena begitu banyaknya jalinan yang mampu ia masuki. Pasti dan terkendali.

Ia stabil dan selalu ada. Setia, istiqomah pada jalannya. Tetapi di perjumpaanku yang kedua itulah aku tahu, dan terkejut mendapati. Bahwa ternyata, segala yang ia lakukan padaku itu, akupun sebetulnya bisa untuk tidak diam saja. Akupun bisa urun rembug dalam aktivitasnya. Sesuatu yang kulakukan tanpa sadar, tanpa berpikir, ternyata bermakna begitu besar baginya.

Jadi, bagaimana aku bisa tidak, lagi-lagi jatuh cinta?

Kepadanya, estrogen, si kecil yang mengagumkan. Milik semua, tapi menjadi karib pemilik kromosom kembar. Yang membuat kami lebih tangguh dari Hulk, dan lebih lentur dari Plasticman, lebih kuat daya tariknya dari Blackhole manapun

;)

*nerd mode on*

Apr
25
Filed Under (belajar) by tada on 25-04-2008

それは私の初めて忘年会でした。教授秘書は私を忘年会のお店まで連れていってくれると言ってくれました。しかし、その日に彼女は茶道のクラスがありますから、私は彼女とそのクラスに行きました。彼女は先に英語で茶道の概要を書いてくれました。

 

おけいこを始める前に、みんな自分の着物を着ました。彼女は別の着物を私に持ってきてくれました。お茶の先生は私に着物を着せてくれました。とても幸せになりました。

 

静かに座って、茶道を楽しみました。先生は私を隣に座らせて、教えてくれました。彼女のカメラで写真を撮影してくれました。

 

先生は私がそのクラスにくることを親切にゆるして下さり、私はそれ以来お茶を習っています。毎週土曜日にクラスが行われます。実験がなかったら、クラスに行きます。やさしいことじゃありません。しかし、本当に楽しいです。いろいろと勉強になります。

お茶の作法は、何をするにもにきちょうめんにしなければなりません。どんなことでも丁寧に心をこめて仕事をすることを知りました。私にとって学習は生涯の旅です。

(dibutuhkan waktu seminggu untuk menulis ini…dan kemungkinan besar saya tidak bisa membacanya lagi sesudahnya… tapinya dibuang sayang sih whehehehe…peace!)

Jan
10
Filed Under (gesah) by tada on 10-01-2008

Suara helikopter dari ringtone hape membangunkanku dari ‘babak kedua’ tidurku pagi ini (well, it’s winter anyway, hibernating is something
natural…:P).
“Selamat ulang tahun Helfi…” Sebuah suara
yang hangat dan akrab menyambutku. Disambung dengan nyanyian lagu happy birthday yang merdu.
Aku terkantuk-kantuk tapi nyengir dengan sukses. Kalau seorang juara folksong
kawakan dan pop karaoke se-Kanto menyanyi lewat telpon untukmu, trust me,
dorongan mematikan hape itu ternyata tidak ada. Hehehe…
 
Bersepeda ke kampus, sambil kedinginan aku mencoba meyakinkan diriku bahwa hari ini adalah hari
ulang tahunku. Setelah sejak sebulan yang lalu beberapa kawan mengingatkanku
bahwa umurku akan segera diperpendek satu tahun. Ada pesan manis di YM. 
Ada paket berisi cokelat berbungkus kertas
kado ‘happy birthday’ (di suatu hari di bulan desember :P). Adik kelas yang minta
dimasakin (jadi nyesel pernah ngundang dia makan…hahaha…becanda ding!). SMS
dari long lost-friends. Pesan di FS. Kartu yang datang pas end-year holiday…et cetera…et
cetera…

Percayakah, bahwa ada sebagian orang yang
diciptakan tidak pernah atau jarang ingat hari ulang tahun, termasuk ulang
tahunnya sendiri? Nah, aku termasuk dalam kelompok itu. Ditambah budaya di
keluargaku yang tidak pernah secara resmi mengategorikan ulang tahun sebagai
hari yang tersendiri. Apalagi merayakannya (tidak islami, kata bokap.. :P).

 
Menjadi hal yang rutin, setiap tahun ada
saja teman yang mengingatkan, bahwa aku bertambah (atau berkurang?) umurnya. Pernah
suatu ketika, pas ultahku bertepatan dengan Idul Adha, aku datang ke acara
gebyar TPA dan ingatan berkabut waktu disalami teman-teman. Hmmm…ternyata aku
lebih ingat sama acara makan sate dengan anak-anak itu…hehehe… Pernah juga pas
SMP, suatu siang jam pelajaran terakhir. Lapar dan capek, aku rasanya sudah pingin pulang saja, sewaktu segumpal kertas menimpa kepalaku. Dari luar
jendela sahabat-sahabatku dari kelas A ( aku sendirian di kelas C, oplosan pas
kelas 3 adalah sistem yang kejam! ) tersenyum lebar sambil melambaikan tangan. Di
kertas itu tertulis “tambah satu umurku…happy birthday…” aku masih belum paham
maksudnya. Besoknya setelah ku konfirmasi, baru aku sadar. Ceritapun berakhir di
warung bakso :P. Dan masih banyak cerita lain…

 
Jadi, sungguh, dari hati yang terdalam (huwo..huwo..)
terima kasih ya atas segala perhatian dan doa-doanya… Mohon maaf atas segala kelalaian berucap salam di milad teman-teman yang mungkin terlewat…

 
Sekaligus, karena hari ini adalah 1
Muharram, selamat tahun baru! Semoga di masa mendatang, kita semua bisa menjadi
manusia yang lebih baik…amien.